Aisyah, Berjuang Mengajar di Pedalaman

Akhir-akhir ini saya banyak dilibatkan untuk menyaksikan film-film terbaru produksi anak bangsa. Beberapa tahun lalu sih saya enggan banget menonton film garapan orang Indonesia. Kenapa? Basi. Ceritanya itu-itu saja, monoton, apalagi saat film horor naik daun. Saya cuma bisa memicingkan mata jika ada promo film Indonesia akan tayang.
Kalaupun saya ingin menonton film, saya biasanya pilih film luar. Biasanya teman-teman pehobi film juga suka memberi masukan film apa yang asyik untuk ditonton. Tapi kali ini saya harus jujur jika film-film Indonesia mulai menampakkan auranya. Beberapa sih masih agak kebarat-baratan. Ya udahlah, mungkin memang sasarannya untuk anak muda Indonesia yang kebarat-baratan. Wkwk...
Salah satu adegan film Aisyah (kredit: luvina.com)
Bertema pendidikan dan bhineka tunggal ika, film Aisyah, Biarkan Kami Bersaudara, menyedot perhatian saya. Laudya Cynthia Bella menjadi bintang utamanya. Film ini mengisahkan tentang Aisyah yang berasal dari Jawa Barat, tetapi mendapat kesempatan mengajar di desa pedalaman Atambua, Nusa Tenggara Timur.
Yang ada dalam bayangan saya saat menonton film ini adalah ada beberapa kesamaan film ini dengan Denias, Laskar Pelangi, dan Mars. Mungkin karena kultur di Indonesia seperti itu ya. Tema-tema kemiskinan dan susahnya hidup di pedalaman diekspos. Justru ini bagus, banyak pesan moral yang disampaikan. Minimal penonton akan belajar bahwa masih ada banyak orang kurang beruntung dibandingkan kita, yang sedang sibuk dengan gadget. Di luar sana ada banyak orang yang tidak mendapatkan pendidikan layak.
Perjuangan Aisyah bukan sekadar ingin mengajar, tapi lebih pada ingin menjadi bermanfaat untuk orang lain. Bisa dibayangkan, di NTT cukup gersang dan panas. Minimnya pasokan air menjadi kendala hidup. Belum lagi untuk mendapatkan air, harus berjalan jauh. Harusnya kita yang bisa hidup tanpa kekurangan air untuk minum banyak bersyukur dan tergerak membantu.
Kisah Aisyah cukup komplit, mulai dari masalah asmara, keluarga (yang notabene harus meninggalkan ibu), sulitnya menjadi guru muslim di lingkungan yang mayoritas katolik, dan masalah lingkungan. Jika di Indonesia mayoritas penduduknya muslim, tapi Aisyah di NTT justru jadi golongan minoritas. Kece badai sih menurut saya.
Bagian akhir film ini buat saya sangat mengharukan. Aisyah dihadapkan pada bulan puasa, menjelang lebaran. Di mana setiap muslim pasti berkumpul bersama keluarganya. Di situlah terlihat keseruan, bagaimana penduduk setempat yang tergolong miskin membantu Aisyah.
Dan saya tidak suka endingnya. Apa banget ituhhhh, tiba-tiba habis. Harusnya diberi pengantar bahwa film ini akan habis beberapa menit kemudian. Jadi saya tidak berekspektasi lebih. Sepertinya sih perlu dibuat bagian kedua. Nanti saya sumbang jadi kameonya deh. Heheh... Tapi film ini memang bagus. Jika ada nilai dari 1-10, saya kasih nilai 8 untuk film ini. (Uwan Urwan)

3 comments:

Elisa Koraag said...

Ishhh ada yg msu jafi canro. Kok kamu gak ngaku kalau kamu nangis pas nonton film ini?

uwanurwan said...

wkwkwkwk.. gak nangiss mbak ichaaa....

Awan said...

Jadi pengen nonton film Aisyah ini deh, kayanya seru baca ulasannya Kang Uwan :)

Instagram