Skip to main content

Demi Followers Apapun akan Dilakukan

Drama di media sosial selalu menarik perhatian saya. Ikut nimbrung? Sudah pasti. Saya adalah salah satu penikmatnya juga sih. Jadi jangan khawatir tentang itu. Jika ditelisik, setiap hari ada saja isu-isu yang muncul di media sosial. Saat mencoba switch ke Twitter ada ribut-ribut salah satu selebtwit yang sedang dihujat warganet akibat satu ungkapan yang dianggap tidak respect pada artis yang meninggal bunuh diri, beberapa hari kemudian viral video seseorang yang terlihat bermesraan di lampu merah dan diduga LGBT di Facebook, lalu berlanjut dengan unggahan video pemabuk yang beri alkohol pada binatang, atau bahkan gempa bumi yang kemudian dikaitkan dengan isu LGBT atau hal lain. Rasanya sudah bukan rahasia lagi ya.

Kalau kamu membaca postingan saya sebelumnya, Kelakuan Buruk Pecinta dan Pemain Drama Medsos, tentu akan lebih paham kronologis di postingan ini. Sengaja saya pisah karena bahasannya cukup panjang. Oke, akan saya lanjutkan ceritanya.


Saya tidak akan terlalu fokus dengan postingan viral yang disebabkan ketidaksengajaan. Setiap orang bisa mengalaminya, bahkan itu terjadi di sekitar saya, terjadi pada teman-teman juga. Saya rasa perbedaan pendapat itu biasa ya. Zaman dulu sebelum kemunculan smartphone, bahkan dalam forum diskusi sampai gontok-gontok-an saking kekeuh-nya dengan pendapat masing-masing. Tnetu kedua pendapat yang berseberangan itu tidak hanya sekadar pendapat, tapi didukung oleh referensi yang kuat. Setelah diskusi selesai, kedua kelompok tersebut tidak ambil pusing dengan perdebatan sengit yang terjadi di forum. Malah biasanya dibawa nongkrong dan ngopi bareng.

Zaman berubah. Sejak kemunculan media sosial, setiap orang yang punya akun dengan teman atau followers lebih banyak sudah dianggap lebih tenar. Kenyataan di lapang memang begitu. Ketenaran seseorang bergantung jumlah followersnya, padahal kalau menurut saya sih ketenaran di media sosial sangat fana kalau tidak bisa menghasilkan uang. Sekadar punya followers banyak dan bisa pengaruhi followers itu tidak cukup. Wkwk.
Apa sih yang dicari orang dengan viralkan dirinya di media sosial? Jawabannya, ketenaran dan uang. Sudah jelas! Meski kadang ketenaran tidak selalu seiring dengan jumlah uang yang didapat sih. Kenapa orang-orang biasa bermain drama? Saya tidak perlu lagi menjawabnya, bukan? Apa sih efeknya setelah menjadi perbincangan banyak orang? Cuci tangan. Ehem. Bingung? Yuk main-main dengan pemain drama. Saya akan menjelaskan dari awal.

Saya akan beri contoh dengan kasus fiksi saja ya, tapi mirip dengan kenyataannya. Sebut saja Siti adalah seorang youtuber. Siti hanya punya 5.000 followers di Twitter. Saya ambil kasus di Twitter saja ya. Viewers video di channelnya hanya berkisar 100-500 akun saja. Dia ingin subsribernya lebih banyak. Siti bekerjasama dengan selebtwit. Konsep drama sudah diatur sedemikian rupa. Persiapannya apa saja, yaitu momen, fake account, selebtwit, dan akun target. Akun target adalah akun seleb itu sendiri.


Drama dimulai
Mari kita mulai dramanya. Siti sudah menyiapkan postingan-postingan yang masih dia banget. Tentu postingan-postingannya disukai followers setianya. Siti sebenarnya sudah populer, terlihat dari berapa banyak love dan RT dalam setiap postingannya. Katakanlah tiba-tiba ada bencana tak terduga, ada tsunami di Jogja kemarin (misalnya lo). Semua orang berduka dan segala hal yang berhubungan dengan tsunami adalah hal sensitif. Tiba-tiba seorang Marry, selebtwit quote tweet postingan dari fake account, sebut saja @uncity. Isi rangkaian tweet dari fake account bisa begini,

Gila gue jadi gak respek banget sama si Mbak yang suka ngetwit tentang jilbab dan siraman rohani, ternyata kemaren gue sebelahan duduk sama dia di kafe xxx. Dia sama temennya jilbaban juga. Ngomongnya kayak ga tahu aturan gitu. Padahal itu kafe sepi banget. Si Mbak itu berisik banget ngomongin orang. Sampe bahas-bahas tsunami kemaren. Katanya itu azab buat orang-orang Jogja yang kebanyakan maksiat. Najis banget. Dia juga sempet nyeletuk orang-orang Jogja cuma tampangnya aja yang lembut, tapi pada brengsek. Dikira gue gak bakalan ngenalin kali ya. Padahal gue suka lo twit2nya selama ini. Trus gue unfol aja sih. Habisnya munafik banget orangnya.
Marry dengan tanpa dosanya quote tweet postingan itu dengan tambahan asumsi, “Eh masak sih orangnya kayak gitu? Gue shock. Ternyata aslinya gitu.” Tentu Marry tidak sendiri. Ada Haici, selebtwit lain, yang juga sudah dikontrak untuk meluluskan drama tersebut. Haici membalas tweet Marry, “Eh si Mbak yang kita bahas tadi pagi itu?” Lalu mereka mengobrol dengan asyik ala-ala ibu rumah tangga yang sedang arisan.

Kamu bisa bayangkan apa yang terjadi jika antarseleb mulai membahas hal itu? Followers mereka akan penasaran dengan siapa tokoh yang sedang dibahas? Karena naluri setiap manusia adalah tukang gosip dan senang mengurus kehidupan orang lain, akhirnya ketemulah siapa targetnya sesuai dengan perbincangan Marry dan Haici.


Warganet tidak terima dengan rangkaian tweet itu langsung geram dan menyerang akun target, yang tak lain dan tak bukan adalah akun palsu Siti. Yang menyerang tidak hanya fake account, tetapi banyak juga yang real. Segala bentuk kesalahan dalam akun Siti baik di Twitter atau pun media sosial lain, kemudian diungkit dan dijadikan bahan. Sebagian mencoba tenangkan warganet dengan membela dan memberi klarifikasi, tetapi warganet tak seolah tak dapat dikendalikan. Justru antarwarganet bisa saling hujat. Sementara itu, Siti masih mampu membalas banyak tweet yang, kalau saya sudah pusing tujuh keliling ingin makan lemari, baskom, sofa, genteng, bahkan batu-batu besar di depan rumah. Hujatan demi hujatan buat saya sangat menguras tenaga.
Siti dengan dramanya memberi klarifikasinya, seolah-olah tidak membenarkan dan tidak menyalahkan rangkaian tweet @uncity. Namun percuma saja. Klarifikasi justru makin membuat runyam. Ada banyak bahasa kotor yang dilontarkan. Sebagian saya yakin bayaran dan sebagian lain adalah para sumbu pendek. Karena ramai, selebtwit yang tidak bekerjasama dengan Siti ikut angkat bicara dalam postingannya. Bahkan menjadi makanan empuk media online yang haus akan berita.

Saya yakin mereka yang terlibat dalam drama ini tertawa-tawa melihat manusia-manusia yang gampang dirasuki amarah, yang disebabkan curhatan fake account. Tujuannya jelas, followers, engagement, dan impression. Kamu sering melihat artis dengan banyak haters, tetapi jumlah followersnya setiap hari terus bertambah? Pasti tahu dong. Lalu kamu yakin bahwa pemicu munculnya banyak haters sendiri itu murni karena kelakuan sang artis atau karena ada pihak-pihak yang sengaja menciptakan drama untuk kepentingan bersama? Mulai mikir, gak?

DRAMA


Saya beri contoh kasus lagi. Artis A dan artis B diketahui dekat karena selain satu management, juga sering berkumpul dalam satu acara televisi. Pada suatu hari ada sebuah berita bahwa artis A mencoba “seolah-olah” merayu artis B. Sementara itu artis B sudah menikah dengan artis C. Padahal seseorang hanya melihat dari sudut pandang lain. Cerita sesungguhnya, mereka berdua hanya sedang berlatih menghapalkan naskah. Mau tidak mau harus melakukan gerak tubuh agar saat on air terbiasa.

Tersebarlah berita hoax tentang rayuan itu. Banyak warganet mulai berkomentar, “jijik”, “najis”, dan perkataan tidak layak lain. Terpancing, akhirnya ramai. Orang-orang yang tidak tahu siapa itu artis A, B, dan C akan mulai mencari tahu. Bisa jadi mereka follow atau tidak. Intinya dalam drama tersebut selalu ada yang dikorbankan. Artis C adalah korban, tapi sayangnya sampai sekarang hubungan artis B dan C tidak apa-apa. Meski begitu, ketiga artis itu punya haters. Kamu pasti bisa menebak mana yang lebih banyak hatersnya? Hehe.. Fyi, akun penyebar bisa jadi sudah diseting sedemikian rupa atau memang ada pihak-pihak yang memanfaatkan momen tertentu untuk mendapatkan bahan gosip. Jadi ada dua kemungkinan ya. Hastaga, saya bergosip. Maafkan, tapi demi terciptanya kedamaian (pret), saya harus sampaikan. Saya sebenarnya ada beberapa contoh kasus lain, tapi saya rasa poin-poinnya tak berbeda jauh.

Uang dan ketenaran
Tujuan licik dari drama-drama tersebut adalah uang dan ketenaran. Sudah jelas. Mau itu drama palsu atau benar, pasti ada pihak-pihak yang diuntungkan. Yang paling terlihat jelas adalah media, baik media online, cetak, dan televisi. Kembali lagi pada poin di atas, manusia suka sekali drama, apalagi orang-orang Indonesia (termasuk saya). Kadang saya sengaja melibatkan diri dalam suatu keramaian untuk tahu langsung apa yang terjadi dan mulai menilai.
Drama-drama yang terjadi di media sosial saat ini bisa dibilang sangat jahat. Kadang kita tidak bisa menilai apakah orang itu berkata benar atau hanya sedang bermain drama? Beda tipis. Bahkan hastag #patahatinasional yang cukup ramai, itu juga dipicu oleh sesuatu. Pikiran jelek saya bilang, keramaian itu dipicu oleh buzzer untuk memancing warganet berkomentar, kemudian hastag itu menjadi trending topik tanpa harus bersusah payah membuat banyak tweet. Sebenarnya peran buzzer memang untuk viralkan isu tertentu. Selama isu yang disampaikan positif, bermanfaat, menghibur, bikin tertawa, atau membuat orang-orang termotivasi, saya rasa tidak masalah. Yang jadi masalah besar adalah isu-isu yang kasusnya tidak jelas kebenarannya, masih abu-abu, orang masih berasumsi, sumber penyebar isu pun tidak mau angkat bicara lebih banyak, warganet jadi terlalu dalam mengurusi kehidupan orang tersebut, atau bahkan bisa saling blokir antarwarganet, saya rasa jadi berbahaya.


Apalagi saat ini hoax-hoax masih lestari, terutama di grup-grup WhatsApp yang bahkan anggotanya tergolong berpendidikan (sarjana). Tidak bisa dipungkiri bahwa kadang dosen pun menjadi pemuja hoax di situs-situs yang diragukan kebenarannya. Bahkan secara tidak sadar saya melakukan itu. Iya, saya pernah menyebarkan postingan kebencian, hoax, dan hal-hal negatif lain. Mungkin di masa depan juga tidak sengaja melakukan. Ya, semoga ada teman-teman yang baik hati mengingatkan.

Oh ya, masih ada satu bahasan lagi tentang ini. Saya akan coba beri sedikit tips untuk meredam emosi dari berita click bait, hoax, dan drama-drama yang tersebar di media sosial. Kita harus lebih pandai mengatur emosi saat menemukan hal-hal seperti itu. Bagaimana caranya? Tunggu postingan selanjutnya ya! (Uwan Urwan)

Comments

Paling banyak dibaca

Mengilhami Dinding Sel Supermini

Pohon mangga ( Mangifera indica ) setinggi 4 m berdiri kokoh di halaman kantor saya. Daunnya rimbun membentuk payung hidup. Saat berdiri di bawah naungannya, angin sejuk dapat saya rasakan. Tentu saja, oksigen sebagai hasil metabolisme tanaman anggota family Anacardiaceae itu membersihkan karbondioksioda di udara dan digantikan oleh unsur yang bersifat oksidator. Pantas jika setiap orang yang ternaungi, tak hanya terlindung dari terik matahari, tetapi juga merasa segar. Pohon mangga (kredit: irwantoshut.net )        Tanaman itu sangat kokoh dan konsisten berdiri bertahun-tahun bahkan kian tinggi. Meski tidak memiliki rangka seperti hewan dan manusia, tanaman (tak hanya mangga) memiliki rangka-rangka dalam berukuran mikroskopis. Rangka-rangka itu dapat disebut dinding sel. Sebenarnya tidak tepat jika saya mengatakan bahwa dinding sel adalah rangka dalam (endoskeleton) tanaman, tetapi fungsinya mirip dengan sistem rangka pada tubuh hewan. Itu terbukti pada fungsinya yang memberi be

3 Pulpen Terbaik Rekomendasiku yang Bikin Tulisanmu Makin Indah

Meski teknologi sudah canggih, tapi menulis di catatan tak akan pernah punah Sebagai penulis, pulpen bukan sekadar alat tulis biasa, tapi sahabat setia yang menemani proses kreatif. Menemukan pulpen yang nyaman digunakan adalah suatu keharusan bagi penulis seperti saya. Setiap goresan tinta yang mengalir lancar dari ujung pulpen mampu menghadirkan kebahagiaan tersendiri, mengubah ide-ide liar di kepala menjadi rangkaian kata yang indah di atas kertas. Pernahkah kamu merasa frustrasi saat pulpen macet atau tintanya bocor di tengah menulis? Pengalaman itu pasti mengganggu momen indah menuangkan ide dan gagasan. Aku pun pernah mengalami hal yang sama. Saat tengah asyik menulis, tiba-tiba pulpen berhenti mengeluarkan tinta. Aliran pikiran yang seharusnya mengalir deras malah tersendat, membuat frustrasi dan merusak konsentrasi. Kejadian seperti ini bisa menghancurkan inspirasi yang sedang menggebu-gebu. Sejak saat itu, aku bertekad untuk menemukan pulpen yang tidak hanya nyaman digunakan,

Jamur blotong Nama Ilmiahnya Ternyata Coprinus sp.

Saya menduga jamur yang selama ini saya beri nama jamur blotong nama ilmiahnya Coprinus sp. Setiap usai musim giling, biasanya musim hujan, saya dan tetangga berburu jamur ini di tumpukan limbah blotong di dekat Pabrik Gula Wringin Anom, Situbondo. Jamur Coprinus sp . tumbuh di blotong Asli, kalau sudah tua, payungnya akan berwarna hitam seperti tinta dan meluruh sedikit demi sedikit Sudah sekian lama mencari tahu, berkat tulisan saya sendiri akhirnya saya tahu namanya, meski belum sampai ke tahap spesies . Jamur yang bisa dimakan ini tergolong dalam ordo dari Agaricales dan masuk dalam keluarga Psathyrellaceae. Selain itu, jamur ini juga suka disebut common ink cap atau inky cap (kalau benar nama ilmiahnya Coprinus atramentarius ) atau Coprinus sterquilinus (midden inkcap ) . Disebut begitu karena payungnya saat tua akan berwarna hitam dan mencair seperti tinta. Nama yang saya kemukakan juga berupa dugaan kuat, bukan berarti benar, tapi saya yakin kalau nama genusnya Copr

Styrofoam Aman Digunakan Kok. Siapa Bilang berbahaya?

Hasil pengujian Badan POM RI terhadap 17 jenis kemasan makanan styrofoam menunjukkan bahwa semua kemasan tersebut memenuhi syarat, artinya styrofoam aman digunakan. Sampai detik ini tidak ada satu negara pun melarang penggunaan styrofoam atas dasar pertimbangan kesehatan. Pelarangan penggunaan styrofoam, nantinya akan jadi sampah non organik, di beberapa negara biasanya berhubungan dengan pencemaran lingkungan. Padahal daur ulang styrofoam sangat mudah. Menurut JECFA-FAO/WHO monomer stiren pada wadah gabus tidak mengakibatkan gangguan kesehatan jika residunya berada di ambang batas 40-500 ppm. Kalau mencapai 5000 ppm bisa menyebabkan kanker. Bungkus makanan hangat pakai styrofoam aman kok Kemasan makanan styrofoam ternyata sebagian besar adalah udara Badan POM RI menguji 17 jenis kemasan, antara lain berupa gelas POP MIE rasa baso, gelas POP Mie Mini rasa ayam bawang, mangkuk NISSIN Newdles Mie Goreng Pedas Kriuk Bawang, mangkuk Bowl Noodle Soup Kimchi flavour Vegetal, kot

Jangan Menabung Kalau Ingin Hidup Melarat

"Mangkanya kalau punya uang ditabung," kata temanku dulu. Waktu itu saya masih duduk di bangku SMA kelas XI. Saya masih ingat betul pesannya sampai sekarang. Dia bisa beli handphone . Waktu itu masih zamannya alat komunikasi poliponik. Saya belum punya. Seringkali merepotkan teman hanya untuk sms ke saudara untuk hal-hal penting. Tak jarang juga diabaikan karena tidak diizinkan meminjam atau meminta satu sms saja meski niat hati ingin membayar biaya sms. Waktu itu satu sms masih seharga Rp350 dan itu tergolong mahal. Jika setiap hari menggunakan Rp3.500 untuk 10 sms, satu minggu menghabiskan Rp24.500. Belum lagi jika harus telepon. Biaya sms Rp350 sudah yang paling murah. Belum banyak bermunculan operator seluler pada zaman itu. Tapi poin dari tulisan ini bukan masalah harga telepon dan sms. Tak sengaja saya bongkar-bongkar lemari dan menemukan secarik kertas. Isinya percakapan saya dengannya. Begini kira-kira Eh kamu kalo tiap hari dikasih sangu berapa sih?

Serba-serbi Dunia Per-Instagraman

Eh, kamu punya Instagram tidak sih? Berapa jumlah follower mu? 100? 500? 800? 1k? 5k? 10k? atau 1m? Gila, luar biasa jika kamu mencapai jumlah followers 1m. Artis banget! Saat postingan mulai diketik, akun Instagram  @uwanurwan berjumlah 6.676  followers . Buat saya ini sudah di level " okay ", tapi untuk tujuan lain, angka 6k masih tergolong cemen . Maaf, bukan bermaksud merendahkan, tapi pada kenyataannya follower dengan jumlah seperti itu, jika saya ingin promosikan jualan, belum terlalu efektif (dalam artian kurang menjangkau lebih banyak orang). Kecuali saya tenar di komunitas tertentu dan mereka butuh barang jualan saya. Saya punya akun media sosial bukan untuk terlihat keren saja, tetapi untuk jualan. Minimal saya mau jual apa yang saya bisa, menulis, menggambar, atau apa gitu .  Saya butuh kerja lebih keras lagi untuk mencapai follower minimal 10k. Saya bisa promosikan produk art dan tulisan saya. Kebetulan saya fulltime blogger dan ilustrator , yang menurut

Golda Coffee dan Kopi ABC Botol, Kopi Kekinian, Kopi Murah Cuma 3000an

Kamu suka kopi hitam pekat, kopi susu, kopi kekinian, atau yang penting kopi enak di kedai kopi? Mungkin kita sering sekali nongkrong bersama teman di kedai kopi mencoba berbagai aneka ragam kopi, mahal pun tak masalah, tapi yang jadi persoalan jika sedang miskin, apakah akan tetap nongkrong? Pilihannya ya minuman murah, misalnya kopi murah dan kopi enak yang cuma 3000an ini.   Aku, Uwan Urwan, memang bukan penikmat kopi banget, tapi suka minum kopi, kadang sengaja mampir ke kedai kopi punya teman, paling sering membeli kopi Golda Coffee dan/atau Kopi ABC Botol, yang harganya hanya 3000an. Aku akan mencoba mereview empat rasa dari dua merek yang kusebut sebelumnya. Golda Coffee kutemukan di minimarket punya dua rasa, yaitu Golda Coffee Dolce Latte dan Golda Coffee Cappucino. Sementara Kopi ABC botol juga kutemukan dua rasa, chocho malt coffee dan kopi susu.   Keempat rasa kopi kekinian kemasan itu aku pikir sama karena biasanya hanya membeli, disimpan di kulkas, dan langsung ku

Empat Alasan Tidak Memakai Pasir Pantai untuk Kucing

  Gara-gara pasir kucing habis dan uang pas-pasan, akhirnya aku putar otak, bagaimana cara kucing bisa pup. Ketemu jawabannya, “pasir pantai”. Kebetulan rumahku bisa dibilang tida terlalu jauh dengan pantai, naik motor setengah jam, sampai.   Itu juga karena aku mendapat inspirasi dari video Tiktok yang rutin mengambil pasir pantai sebagai penganti pasir kucing. Dan setelah mencoba pakai selama dua hari, hasilnya, aku atas nama pribadi, Uwan Urwan, TIDAK DIREKOMENDASIKAN . Kenapa? Pasir pantai lebih berat dibandingkan pasir khusus kucing Pasir pantai tidak jauh berbeda dengan pasir yang dipakai untuk bahan bangunan, berat. Warna pasir pantai beragam, mulai dari hitam seperti batu sampai krem. Ukuran pun beragam, mulai dari yang sangat halus sampai ke pasir ukuran normal. Yan paling au soroti adalah warnanya, ternyata setelah diletakkan di dalam bak, jadi tidak bagus. apalagi kalau sudah ada gundukan pup dan kencing yang seperti menyebar. Berbeda dengan pasir khusus kucing, y

Pengalaman Pakai Pasir Pantai sebagai Pengganti Pasir Kucing

Sudah punya kucing sejak kecil. Biasa atas keberadaan kucing membuatku tak pernah berhenti untuk punya kucing. Kucing liar yang sering mampir ke rumah biasanya aku juga beri makan dan yang mau mendekat aku pelihara. Punya kucing sebelumnya dibiarkan pup di luar. Repot kalau anak-anak kucing sudah mulai makan selain air susu induknya, pasti akan kencing dan pup di kasur karena induknya pasti lebih nyaman meletakkan anak-anaknya di kasurku. Dulu harus melatih mereka terlebih dahulu selama beberapa waktu sebelum bisa pup di luar   Setiap hari harus mencuci sprei dan menjemur kasur. Begitu tahu bahwa kasur bukanlah tempat pup dan pipis, mereka akan buang hajat di luar. Tentu saja akan mencari pasir atau tanah yang cukup gembur sebagai tempat merahasiakan hasil buangan. Kadang tanah tetangga jadi sasaran dan harus menerima omelan mereka.   Sejak awal tahun 2022, kembali dari ibukota, kucing melahirkan, dan sudah mulai makan selain air susu induknya, aku siapkan pasir buat mereka. Namu

10 Hal Yang Bikin Malas Jadi blogger

Sebenarnya fenomena blogger sudah ada sejak zaman website pertama kali diciptakan. Mungkin kalau dulu lebih ke perusahaan ya. Perusahaan harus punya website. Belakangan, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang juga ingin punya website, mulai banyak yang berlomba-lomba punya juga. Apalagi akhir-akhir ini yang punya website pribadi adalah keharusan. Tidak harus sih, cuma kalau punya website itu akan ada lebih banyak orang yang bisa tahu tentang kita dan apa yang sedang dipikirkan.  Apa bedanya website dan blog? Menurut saya sih sama saja. Gak ada bedanya. Mungkin bedanya dalam penggunaannya ya. Itu website digunakan untuk pribadi atau kelompok/instansi. Saya mulai sotoy .  Okeh, saya akan sebut website itu blog saja ya daripada salah ngomong . Blog sekarang sudah mulai banyak yang berbayar, misalnya www.uwanurwan.com ( halah narsis ). Yang gratisan bagaimana? Loh tetap lanjutkan perjuangannya. Menulis itu bukan perkara pakai rumah mahal atau rumah bambu. Sebelumnya saya jug