Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Opini

3 Pulpen Terbaik Rekomendasiku yang Bikin Tulisanmu Makin Indah

Meski teknologi sudah canggih, tapi menulis di catatan tak akan pernah punah Sebagai penulis, pulpen bukan sekadar alat tulis biasa, tapi sahabat setia yang menemani proses kreatif. Menemukan pulpen yang nyaman digunakan adalah suatu keharusan bagi penulis seperti saya. Setiap goresan tinta yang mengalir lancar dari ujung pulpen mampu menghadirkan kebahagiaan tersendiri, mengubah ide-ide liar di kepala menjadi rangkaian kata yang indah di atas kertas. Pernahkah kamu merasa frustrasi saat pulpen macet atau tintanya bocor di tengah menulis? Pengalaman itu pasti mengganggu momen indah menuangkan ide dan gagasan. Aku pun pernah mengalami hal yang sama. Saat tengah asyik menulis, tiba-tiba pulpen berhenti mengeluarkan tinta. Aliran pikiran yang seharusnya mengalir deras malah tersendat, membuat frustrasi dan merusak konsentrasi. Kejadian seperti ini bisa menghancurkan inspirasi yang sedang menggebu-gebu. Sejak saat itu, aku bertekad untuk menemukan pulpen yang tidak hanya nyaman digunakan,

Apakah Listrik adalah Kunci Penyelamatan Bumi?

Apakah energi listrik bisa menjadi penyelamat lingkungan? Ada tantangan besar dalam peralihan energi, dengan penambangan batu bara yang masih dominan. Kredit: evening_tao (freepic) Pergeseran ke Listrik: Penyelamat atau Sekedar Skema Lain? Beralih ke energi listrik tampaknya seperti langkah yang cerdas, bukan? Kurangi polusi udara dengan meninggalkan bahan bakar minyak. Tapi tunggu dulu, ada sisi lain yang perlu dipertimbangkan. Meskipun energi listrik dianggap lebih bersih, proses pembuatannya seringkali masih bergantung pada batu bara. Ini berarti, meski kita meninggalkan minyak, kita masih 'memanjakan' batu bara dan bahan tambang lainnya. Jadi, apakah energi listrik benar-benar penyelamat lingkungan atau hanya trik bisnis? Pertanyaan yang menggelitik, bukan? Kita perlu melihat lebih dalam lagi. Meski ada penurunan penggunaan bahan bakar dalam transportasi, namun industri penambangan tidak akan dengan mudah melepaskan pemasukan mereka. Para pekerja di sana, baik di tambang ma

6 Alasan Mengapa Merahasiakan Hubungan di Media Sosial

Memangnya harus banget posting foto pasangan di media sosial? Harus posting foto pacar? Harus pamer foto pacar? Harus umbar kemesraan di media sosial? Dan berbagai pertanyaan sejenis ini. Sebenarnya tidak juga, tapi sebagian orang senang jika pasangannya pamer kemesraan di medsos, pamer foto pacar, tapi sebagian lagi tidak. Mereka lebih senang merahasiakan hubungan di media sosial. Baik yang pamer atau pun tidak, masing-masing punya alasan kuat. Kita kan tidak boleh menyalahkan pilihan orang lain hanya karena bersebrangan pendapat. Untuk itu aku membuat poling di Instagram @uwanurwan . Awalnya iseng, kok melihat jawaban teman-teman jadi kepikiran buat diangkat di blog. Sebanyak 6% mengaku senang jika posting bersama pasangan, 27% kadang posting juga meski tidak sering, dan mayoritas (67%) mengaku lebih senang jika tidak posting hal-hal yang berbau asmara di media sosial. Awalnya biasa saja dengan melihat hasil poling itu, tapi jadi menarik melihat jawaban-jawabannya. Aku sengaja tidak

Pendapat Mereka tentang Silent Reader di Grup WhatsApp

Grup WhatsApp atau WhatsApp Group, biasa disingkat grup WA atau WAG ibarat komunitas atau kelompok. Di dalamnya ada banyak karakter, ada yang selalu muncul mau ditanya pendapat atau tidak, ada yang hanya muncul di momen-momen tertentu, atau tidak muncul sama sekali. Pernah tidak greget dengan orang yang jadi silent reader di grup WhatsApp? Atau malah kita sendiri yang silent reader? Zuzur ya zuzur, aku di kebanyakan grup WhatsApp adalah silent reader apalagi sejak pandemi.  Beberapa waktu lalu aku membuat poling di Instastory Instagram @uwanurwan. Ada dua hal yang kutanyakan, apakah kamu founder komunitas/admin grup WhatsApp? dan sebagai bagian dari WhatsApp Group, tanggapanmu melihat anggota lain jadi silent reader bagaimana? Kedua topik itu berhubungan dengan silent reader. Topik kedua aku berikan empat pilihan jawaban. Aku meminta teman-teman Instagramku menjawab. Bila tidak ada di dalam pilihan, aku meminta mereka untuk menuliskannya dalam kolom question. Ada 126 orang yang bersedi

Kenapa aku ingin punya mobil?

Bicara soal impian, aku sudah mencatat banyak impian dalam bucket list. Punya rumah atau apartemen di Jakarta, kaya raya, ngembangin bisnis art, membukukan puisi lagi, punya mobil, dan lain-lain. Banyak sekali keinginan manusia memang, ingin ini ingin itu banyak sekali. Doraemon, penuhilah semua keinginan-keinginanku. Cling. Haha.. Sayangnya di dunia nyata tidak seinstan komik Doraemon ditambah kebodohan dan kecerobohan Nobita. Aku harus berusaha, ya tentu. Eh tapi tahu tidak kenapa aku ingin punya mobil? Ini dia alasannya. Bisa pergi bawa rombongan Kadang keadaan memaksa untuk bolak-balik antar jemput karena suaminya atau karena tidak ada kendaraan saat berkumpul bersama keluarga besar. Sebenarnya tidak begitu masalah karena itu jarang terjadi, tapi jadi tidak praktis dan melelahkan bila yang diantar jemput tidak hanya satu orang. Bayangkan punya mobil, cukup angkut beberapa orang, sekali jalan bisa jemput dan antar ke beberapa tempat. Menurutku jadi hemat waktu dan hemat bahan bakar.

Grup WhatsApp Harusnya Bagaimana?

Aku puya sekitar 30an grup WhatsApp? Kalau kamu berapa? Coba sekarang dipikirkan, apakah aktif di semua grup, hanya di beberapa grup, atau malah tidak aktif di semua grup? Kalau aktif di semua grup apakah kamu pengangguran? Wkwk... Lalu bila memilih tidak aktif di semua grup, berarti ada yang salah dengan fungsi grup itu sendiri. Menurutku, setiap grup dibentuk dengan tujuan tertentu, ada yang buat komunitas, pekerjaan, alumni xxx, geng, dan lain-lain. Masing-masing harus paham visi dan misi sekaligus keberadaan grup itu sendiri. Meski begitu, mau grup WhatsApp apapun itu akan selalu ada yang tidak nyaman atau memilih jadi silent reader. Di sisi lain, banyak yang merasakan manfaat adanya grup WhatsApp dalam hidupnya, bagi yang benar-benar mengambil manfaat. Baca juga : Kenapa keluar dari grup WhatsApp? Aku mengumpulkan data dari beberapa teman, seharusnya grup WhatsApp itu seperti apa sih? Begini kata mereka. Sesuai dengan tujuannya Grup WhatsApp memang sebaiknya sesuai dengan tujuann

Kenapa Keluar dari Grup WhatsApp

Melanjutkan tulisanku sebelumnya yang membahas kenapa tidak aktif di grup WhatsApp, di tulisan ini pun isinya data-data wawancara dengan narasumber yang sama seperti sebelumnya. Hasil poling di Twitter paling banyak bilang bila grup WhatsApp itu tidak asyik, makanya keluar grup. Hem, namun, bagaimana dengan jawaban-jawaban teman-temanku? Grupnya tidak asyik Setiap orang yang dimasukkan tanpa izin atau pun dengan izin ke dalam grup berharap grup WhatsApp asyik, tapi kadang realitanya tidak begitu. Standar asyik atau tidaknya tiap orang pun beda. Menurutku, ya memang, sebelum dimasukkan ke dalam grup ada baiknya izin terlebih dahulu. Bila pun tidak, beri penjelasan singkat tentang grup tersebut, apa kira-kira manfaat yang akan diperoleh di dalam grup. Tidak asyiknya grup WhatsApp pun penyebabnya macam-macam, bisa jadi karena ada musuh di dalam grup, adan mantan, ada teman yang sok, ketuanya kurang disukai, dan lain-lain. Memang sebaiknya beri kebebasan untuk anggota memilih, mau tetap be

Dari Kopi, Barista, Sampai Solusi Sakit Maag

Indonesia adalah produsen kopi terbanyak di dunia nomor empat. Penikmat kopi di Indonesia pun kian bertambah, tapi masalah yang dihadapi penikmat kopi adalah kembung. Kembung biasanya disebabkan sifat asam dari kopi dan perut kita belum toleran. Kalau sudah begitu, kamu harus cari solusi atasi mag. Saya suka minum kopi tapi bukan pecinta kopi. Boleh kan ya? Haha.. Kalau ada pilihan teh. Saya lebih pilih teh. Sesekali minum kopi, soalnya perut suka kembung. Untuk kondisi tertentu, misalnya sedang menahan kantuk, saya akan mencari kopi, meski kadang tidak berhasil juga sih. Minimal dengan minum kopi saya memicu kerja jantung agar lebih aktif memompa darah. Yang paling saya garis bawahi adalah kopi seringkali membuat perut saya kembung. Biasanya saya lebih cari aman, tapi sebenarnya saya ada solusi sih untuk itu.

Mengapa Penting Memahami Isu Gender?

Kasus pelecehan seksual baik melalui teks, verbal, atau fisik masih kerap terjadi. Biasanya yang menjadi objek pelecehan adalah perempuan. Media pun lebih suka viralkan pelecehan seksual seputar perempuan, meski sebenarnya kasus pelecehan juga terjadi pada laki-laki. Berita tentang perempuan dianggap menjadi makanan sedap bagi pembaca yang haus akan info terbaru. Perempuan selalu menjadi objek perbincangan masyarakat umum. Dianggap wajar jika membicarakan hal-hal sensitif tentang perempuan. Media pun punya peran khusus membentuk opini tersebut. sadar atau tidak, perempuan dianggap layak dilecehkan, sehingga kasus-kasus tersebut masih akan terus berlangsung. Entah yang akan diberitakan di media atau pun tidak. Apabila terjadi kasus pemerkosaan, masyarakat secara tidak langsung akan berpikir bahwa si perempuanlah yang salah. Kenapa? Karena menggunakan pakaian minimlah, pulang larut malamlah, terlalu menggodalah, dan lain-lain. Selalu perempuan yang menjadi objek untuk disala

Demi Followers Apapun akan Dilakukan

Drama di media sosial selalu menarik perhatian saya. Ikut nimbrung? Sudah pasti. Saya adalah salah satu penikmatnya juga sih. Jadi jangan khawatir tentang itu. Jika ditelisik, setiap hari ada saja isu-isu yang muncul di media sosial. Saat mencoba switch ke Twitter ada ribut-ribut salah satu selebtwit yang sedang dihujat warganet akibat satu ungkapan yang dianggap tidak respect pada artis yang meninggal bunuh diri, beberapa hari kemudian viral video seseorang yang terlihat bermesraan di lampu merah dan diduga LGBT di Facebook, lalu berlanjut dengan unggahan video pemabuk yang beri alkohol pada binatang, atau bahkan gempa bumi yang kemudian dikaitkan dengan isu LGBT atau hal lain. Rasanya sudah bukan rahasia lagi ya. Kalau kamu membaca postingan saya sebelumnya, Kelakuan Buruk Pecinta dan Pemain Drama Medsos , tentu akan lebih paham kronologis di postingan ini. Sengaja saya pisah karena bahasannya cukup panjang. Oke, akan saya lanjutkan ceritanya. Saya tidak akan terlalu f