Menuju Bumi Sehat Bersama Komunitas Anak Kali Ciliwung

April 27, 2016

Rumah adalah surga tak terelakkan, sementara itu bumi itu tempat tinggal manusia dan beragam makhluk lain.
     Pandangan saya seketika jatuh pada sebuah rumah bernuansa kayu, tepat di tepi Sungai Ciliwung, Kampung Tongkol RT 04 RW 01, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara. Rumah itu tampak sederhana dengan dinding bata timbul di lantai satu dan sepenuhnya menggunakan material kayu (sebagian besar dindingnya bambu) di lantai dua dan tiganya. Dibandingkan dengan rumah-rumah di sepanjang Sungai Ciliwung, rumah inilah yang berbeda, karena mencolok.
     Terlihat kurang menarik memang jika dibandingkan dengan hunian perumahan elit, tapi justru rumah itu punya kisah dan konsep. Komunitas Anak kali Ciliwung, begitulah mereka menamakan sekumpulan warga peduli lingkungan itu, memotong rumah demi menjaga komitmen jalur inspeksi. Jalur inspeksi selebar 5 m dari batas sungai untuk jalan dan belakang rumah pun selebar 5 m untuk memberi ruang antara rumah dan tembok benteng kota kolonial. Sempadan sebagai ruang penyangga antara ekosistem sungai dan daratan lebih luas.
     Sungai Ciliwung memang tergolong salah satu sumber air utama di Jakarta. Namun, seiring berjalannya waktu, bangunan-bangunan yang kian bertambah dan mengurangi resapan air menjadi salah satu sebab Jakarta banjir pada musim hujan. Luas area Sungai Ciliwung 347 km persegi dan panjang sungai utamanya sekitar 117 km. Kedalaman sungainya sekitar lima meter. Meski kini fungsi sungai dan kegiatan lebih bersinergi, perluasan sempedan membuat area hunian kian sempit. Untuk menyiasatinya, rumah dibuat bertingkat. Ruang-ruang yang hilang pun dapat tergantikan.
Rumah contoh
     Mereka menyebut rumah itu sebagai rumah contoh, di mana dalam satu rumah fungsinya beragam. Dalam rumah itu terdapat kamar mandi yang dilengkapi satu unit septic tank, saringan, resapan air limbah rumah tangga, dan satu sambungan listrik. Rangka atap dan kanopinya dari bambu. Sebelum digunakan, bambu-bambu tersebut diawetkan dalam formalin untuk memperpanjang daya tahannya. Tanpa pengawetan, bambu hanya akan bertahan paling lama lima tahun, namun jika bambu diperlakukan sedemikian rupa, mulai dari penebangan, penyimpanan, pengawetan, hingga perawatan, bambu dapat bertahan hingga puluhan tahun.
     Sistem ventilasi dan cahaya pun telah diatur untuk menghindari penggunaan listrik berlebih. Ada kekeluargaan yang tinggi di kampung itu, sebab orang dewasa membangun rumah, sementara anak-anak membuat mural untuk dinding belakang rumah.
     Jika ditelusuri, kegiatan Komunitas Anak Kali Ciliwung tak hanya pada rumah contoh, melainkan menjadikan area itu sebagai titik contoh cinta lingkungan. Memotong hunian, misalnya, untuk memberikan ruang selebar lima meter menjadi halaman bersama tidak mudah, sebab di Jakarta harga tanah tak murah. Juga kegiatan membuat biopori, pembersihan kali, penyediaan tempat sampah, memilah sampah sekaligus memanfaatkannya (kerajinan tangan untuk nonorganik dan kompos untuk organik), kelompok tabungan untuk renovasi kampung, taman vertikal dari botol bekas, dan bekerja sama dengan pemerintah (khususnya dengan Dinas Kebersihan setempat dan PMI) juga Arsitektur Swadaya dan Fasilitas (ASF). Nah, kampung itu jadi paket lengkap.
     Kampung Tongkol menjadi lebih tertata dan mendukung gerakan pemerintah. Tentu saja itu berguna untuk kelangsungan bersama. Sebab rumah yang kita jaga dengan baik akan menjadi hunian nyaman untuk kita tinggali. (Uwan Urwan)
Pustaka
http://ppejawa.com/ekoregion/das-ciliwung/
http://propertytoday.co.id/teknik-pengawetan-bambu.html
................................................................................................................................
Terimakasih kepada PMI Jakarta Utara telah memogramkan susur Sungai Ciliwung melewati kampung Komunitas Anak Kali Ciliwung untuk memperingati Hari Bumi 2016 bersama blogger.
................................................................................................................................

You Might Also Like

0 komentar

Sangat senang kalau kamu berkenan meninggalkan komentar di sini. Kamu jaga kesehatan ya. 💪

Instagram