Jakarta Mengutuk Saya


Pertama kali menjejakkan kaki ke Jakarta
Tahun 2010, untuk pertama kalinya saya backpacker ke ibukota. Mencoba menikmati hiruk-pikuk kota Jakarta yang sulit didekripsikan. Orang-orang tampak sibuk, berjalan terburu-buru, matahari membakar, dan penghuni-penghuninya yang seolah tak melihat ada makhluk hidup lain di sekitarnya. Dari Stasiun Pasar Senen saya dan teman mulai kelimpungan mencari arah jalan. Apakah barat, timur, selatan, atau utara?
Begitu naik angkutan umum, penumpang memenuhi setiap sudut, hingga saya terjepit. Jam-jam pulang sekolah, siswa-siswi tampaknya tak peduli apakah kopaja sudah penuh atau tidak, yang penting bisa pulang. Badan saya berkeringat deras, ditambah panas siang hari membakar, tidak dapat tempat duduk, dan bau matahari anak-anak sekolahan itu menambah kesan buruk Kota Jakarta. Apalagi sang supir ugal-ugalan.

Tak hanya menikmati kopaja, TransJakarta (Tj) pun jadi sasaran. Waktu itu Tj menggunakan karcis. “Beli tiket Rp3.500 di loket dan kamu bisa keliling Jakarta,” kata salah satu sahabat yang pernah mengunjungi Jakarta lebih dulu. Saya pun mengikuti instruksinya. Ada banyak gedung tinggi sepanjang perjalanan sampai saya mencatat setiap gedung-gedung unik yang saya lalui. 

Kembali
Jakarta buat saya jadi tempat bermain
Sebagai anak udik dari Jawa Timur, takjub pada ibukota memang perlu dilakukan. Tapi ada banyak hal yang membuat saya enggan tinggal di Jakarta. Macet, penuh sesak di angkutan umum, tingginya nilai antisosial, dan serba-mahalnya barang-barang. “Saya tidak mau bekerja dan tinggal di Jakarta. Kalau sekedar melancong okelah,” celetuk saya sewaktu sudah kembali ke Jawa Timur.

Mungkin ini yang dinamakan kutukan. Februari 2013 justru saya kembali ke Jakarta tersebab diterima bekerja di sebuah perusahaan. Lalu saya mencoba menarik perkataan tahun 2010, justru saya ingin bekerja di Jakarta. Jakarta ternyata memang memesona. Tj menjadi transportasi utama kini. Dari tempat kediaman, cukup berjalan 15 menit untuk tiba di Shelter Busway Pancoran Barat atau Duren Tiga.

Jika semula menggunakan karcis, untuk menghemat penggunaan kertas, transportasi umum ini beralih menggunakan kartu yang dikeluarkan dari berbagai bank dan bisa diisi ulang layaknya kartu atm. Lebih praktis juga bisa digunakan untuk berbelanja di toko modern. Sudah tahu Jakarta macet, Pemerintah melakukan banyak inovasi, Tj salah satunya. Tj memang menjadi salah transportasi yang bisa digunakan untuk menghindari macet. Apa dengan naik Tj macet akan terkendali? Seharusnya sih iya. Sebab ada jalur khusus yang bernama busway, di mana hanya Tj yang bisa pakai.

Busway Steril
Tapi sayang sekali, kesadaran masyarakat masih belum terbangkitkan penuh. Mobil dan motor yang tidak sabar lebih memilih untuk menerobos masuk jalur busway. Akibatnya kemacetan pun tetap bertahan. Terhitung tiga tahun saya menjadi penikmat Tj. Cukup aktifnya penilangan oleh anggota kepolisian dan menutup jalur busway dengan palang saat Tj tidak melintas jadi salah satu cara busway bebas hambatan.

Transjakarta, transportasi penting di Jakarta
Naik busway kini memang lebih cepat dibandingkan tahun lalu. Pengendara mobil dan sepeda motor sih tidak berkurang, justru bertambah karena Jakarta selalu kedatangan penghuni baru dari berbagai kota di Indonesia. Armada pun bertambah, meski untuk beberapa titik dan pada jam-jam tertentu Tj penuh sesak hingga antrian berdesakan di dalam Shelter. Bisa sejam lebih menunggu Tj yang bisa ditumpangi jika terjebak menunggu Tj datang pada jam-jam sibuk. Meski begitu, Tj masih menjadi pilihan terbaik untuk transportasi di Jakarta.. Tarifnya pun tak berubah, masih Rp3.500 ke mana pun. Sebelum pukul 07.00 WIB justru hanya Rp2.000. Murah bukan?

Saat ini saya betah di Jakarta. Lupakan macet untuk sementara waktu jika sudah berkumpul bersama teman-teman, terlebih blogger yang selalu ada tempat untuk berbagi.  Dan seru lo kalau naik Tj, ada banyak kisah-kisah yang bisa kita dapatkan untuk kita bagikan kembali kepada banyak orang. Juga untuk menghidari macet. Jika benar-benar tidak urgent, pakai mobil membuat jalanan di Jakarta makin sesak. Mending naik transportasi umum. (Uwan Urwan)

4 comments:

Nurul Dwi Larasati said...

Welcome to the real jungle bro..
Betah-betah yo nang Jakarta...

Widya Candra Dewi said...

Labelnya

uwanurwan said...

betah dong kak

uwanurwan said...

hahaha

Instagram