Racauan Tentang... (Ah!)

January 23, 2015

     Sungguh berat perjalanan cinta. Bagaikan air, anggap saja ia mengalir dari puncak pegunungan berisi dua molekul hidrogen dan satu molekul oksigen sejuk. Mulanya ia merembes dari badan-badan tanah yang dipijak beragam flora. Ia mencari celah terlebar untuk dilalui dan sampailah ke ke titik bertemunya dengan teman-teman baru. Ia berkoloni bagai burung pipit dalam kawanannya di tepian sawah matang.


     Gravitasi membawanya makin turun letaknya. Ia dan koloninya saling berlomba mendapatka tempat terdepan. Ia tak hanya.membawa tubuh, beragam serpihan yang tak dikenali menempel pada badannya, seperti serpihan klorofil, unsur-unsur logam, dan puing-puing bernyawa lain. Tahu tidak, ia masih terbenam jauh dalam perut gunung-gunung menjulanv. Entah bagaimana ceritanya tanah meninggi bak tebing, aku tak tahu. Pada suatu wilayah yang teramat jauh, tersibaklah matahari. Keluarlah molekul-molekul kaya mineral itu ke atas permukaan tanah. Jalanan makin rendah dan ia selalu tak tahan berhenti. Beberapa.kawan telah berkurang sedikit-demi sedikit karena manusia, tumbuhan, dan binatang menyesapnya. Kemurnian pun tersaring.
      Kini matahari memainkan perannya. Sebelum ia tiba di muara, kalor membakarnya sampai kotoran-kotoran yang ia bawa tanggal.

     Kebetulan, ia terangkat sebelum sampai ke ujung.
     Ia sampai di awan dalam bentuk ringan. Hufh, tapi ia tak merasa lelah. Itu adalah saat ia harus menemukan tempat membuahkan kasih dan keteduhan. Sebelum pucuk-pucuk baru tumbuh, satu musim harus berlalu.
     Ah, sepanjang inikah cinta?
     Sebenarnya sih bukan
     Itu hanya analogi bodoh tentang cinta dan dibandingkan dengan air
     Pagi ini hujan
     Pagi ini aku berbasah-basah, lupakan tentang cerita air mengalir sampai jauh*
Tapi aku setuju jika perjalanam cinta memang berat.

Cibubur, 220115

*Gesang, Bengawan Solo

You Might Also Like

0 komentar

Sangat senang kalau kamu berkenan meninggalkan komentar di sini. Kamu jaga kesehatan ya. 💪

Instagram