Kenapa Tidak Aktif di Grup WhatsApp?

Tiba-tiba, suatu malam, kegelisahan muncul, kenapa ya orang-orang yang bergabung dalam suatu grup WhatsApp, yang nimbrung hanya orang itu-itu saja? Bahkan aku sendiri juga melakukannya. Sampai dikeluarkan dari beberapa grup, aku tidak merasa kehilangan sama sekali.

Uwan urwan ilustrasi


Tidak aktif di banyak grup WhatsApp buatku bukan masalah besar, apalagi begitu ada banyak pekerjaan yang menuntut konsentrasi atau sedang me time (bermain game, mengobrol dengan teman, menonton film, dan lain-lain). Toh, di lain waktu masih bisa menyimak dan meski jadi silent reader.

Lalu aku membuat poling di Twitter. Ada dua poling, yang pertama soal kenapa tidak aktif di grup (ada 92 voter). Poling kedua tentang kenapa memilih keluar grup WhatsApp tertentu. Aku akan bahas soal poling kedua di tulisan lain.

Uwan urwan


Belum puas, aku melakukan wawancara via online dengan beberapa teman. Pertanyaannya sama, tapi semua jawaban teman-teman mewakili jawabanku untuk pertanyaan-pertanyaanku sendiri. Jawaban-jawaban itu aku rinci dalam poin-poin berikut.

Terlalu banyak grup

Uwan urwan

Aku percaya tiap orang yang pakai aplikasi WhatsApp punya grup lebih dari satu, bahkan ada yang punya puluhan sampai ratusan. Memang ada beberapa grup yang ingin semua anggotanya aktif semua, tapi tiap orang berbeda-beda. Ada yang punya banyak waktu luang sehingga bisa aktif di grup mana pun, ada juga yang tidak. “Kebayang gak sih di handphoneku mungkin ada ratusan grup WhatsApp. Kalau semua ditimbrungin, aku gak bisa ngapa-ngapain dong. Habis waktuku di depan hape,” ungkap perempuan yang mau disebut blogger cantik.

Prioritasnya beda

Setiap orang memang punya prioritas masing-masing. Bila ada yang memilih jadi silent reader di grup WhatsApp manapun, bisa jadi fokusnya di kehidupan nyata. “Sekarang sudah berbeda dengan dulu. Sebagai ibu rumah tangga dan ibu yang punya anak berkebutuhan khusus (ABK), aku harus utamakan rumah tangga dan anak, kemudian bisnis online shopku. Aku produksi, packing, urus operating system sendiri,” jawab HY, Ibu rumah tangga.

Obrolan tidak menarik/dipahami

Setelah ikut workshop xxx, aku pun dimasukkan di grup WhatsApp. Awalnya sih perkenalan yang menyenangkan, tapi lama-lama aku tidak mengerti bahasan grup. Seolah-olah mereka sedang menggunakan bahasa isyarat dan semua anggota grup dianggap paham bahasa isyarat bekerja. Semua yang tidak menarik dan tidak bisa dipahami berubah menjadi info-info yang tidak sesuai minat. “Enggak ngerti apa yang dibahas jadi nyimak aja,” kata Khun Wichan, salah satu narasumberku.

Obrolannya tidak penting, banyak ghibah, pamer diri, dan lain-lain

“Aku malas ikutan obrolan yang cenderung pamer diri,” kata Aldha, temanku yang memang jarang nimbrung grup WhatsApp. Menurutku pamer diri itu wajar ya kalau niatnya untuk memotivasi, tapi ada beberapa tipe orang yang pamer yang ingin disanjung dengan membawa-bawa “biar termotivasi”.

Selain itu, topik bahasannya gak penting jadi diem aja deh atau clear chat,” lanjut Khun Wichan. Natara, salah satu blogger yang tinggal di Jakarta pun mengaku tidak suka chat tidak penting di grup. “Jadi chat di grup ya emang yang penting doang. Contoh laporan link, kalo ada form report dan ga wajib ngelist di grup, ya gak ngelist, hehe,” imbuhnya.

Grupnya bisu

Dedy Darmawan, Ketua Komunitas Tarot Jakarta

Pernah ada di sebuah grup yang bisu? Kalau ada yang share apapun tidak ada yang respon? Senada yang dialami Dedy Darmawan, Ketua Komunitas Tarot Jakarta. Katanya, “Tidak ada respon dengan anggota lain kalau ada yang memulai percakapan berupa usulan, pertanyaan, atau permintaan saran. Buat apa ada grup intern tapi tidak ada interaksi apapun?”.

HY menambahkan “Anggota WhatsApp grup biasanya ngonbrol ke mana-mana. Semakin tua, aku males scrol, lebih males debat, dan lebih males tersinggung dan sedih saat grup rame lalu tiba-tiba sepu kayak kuburan setelah aku ikutan chat. Aku kan kasihan sama diri sendiri kalau begitu.”

Obrolannya tertimbun jauh

Aku sering mengalami, buka WhatsApp, semua chat grup aktif dan masing-masing punya notif puluhan sampai ratusan chat. Antara galau mau nimbrung, baca satu-satu dan menanggapi, obrolannya sudah jauh. Ya sudah, biasanya aku clear chat. “Pas mau balas di topik tertentu eh udah jauh jarak waktunya dan udah ketiban banyak chat lain,” kata Khun Wichan. Jika pun membaca, mau menanggapi kadang pendapatnya sudah tidak diperlukan, apalagi “Ssudah rame banget dan sepertinya pendapatku sudah diwakilkan sama yang lain,” kata Imawan Anshari, pemilik menolaklupa.web.id.

Topik yang dibahas sensitif

Pornografi uwan urwan

Tidak jarang aku menemukan obrolan yang cukup sensitif, misalnya tentang politik, debat kusir tentang masalah tertentu, atau yang berbau porno. Sebenarnya pengen menegur dengan kata-kata kasar, akhirnya memilih diam karena ya buang-buang energi. Solusi paling efektif ya clear chat. Ternyata itu juga memicu Imawan untuk diam karena ia takut menyinggung pihak lain.

Setelah merapikan jawaban teman-teman yang aku juga setuju dengan hal-hal di atas, jadi lega. Semoga tulisan ini menjadi jawaban atas pertanyaan yang ada di judul tulisan ini. semoga juga bisa saling mengerti bahwa kita memang tidak bisa memaksa seseorang untuk terus meramaikan grup setiap saat. Kamu yang baca, makasih. Sehat selalu ya.

6 comments:

Novitania said...

Tepat sekaliiiiii. Waktuku abis kalo mgurusin grup wasapp doang hehe

Natara said...

Moon maap kaka, saya belum pindah kewarganegaraan jadi warga jakarta. Masih resmi jadi orang Bekasi doong

@blogger_eksis said...

Aku bakal aktif kalau ada hal" yang menarik. Kalau gak ada, lebih baik open Twitter dan berkicau di sana ��

Imawan Anshari said...

Benar, prioritas orang beda-beda, kadang ga aktif di group karena banyak kerjaan lain juga.

Anonymous said...

Mantap kakak... mewakili suara2 hati org2 yg buka grup wa,cm klik option clear chat ����

Nurul Dwi Larasati said...

Kok ga wawancarai gue sih? 😄. Menurut gue sih gimana memantain orang yg punya WA aja, klo gue termasuk orang yg ramenya di grup tertentu aja, di mana isinya orang2 yg sering ketemu/intens ngobrol. Selebihnya kayak WA job misalnya, ya dipakai buat kepentingan job.