Rencanakan Anggaran Naik Haji dan Umrah Sejak Dini


Semua orang yang naik haji dan umrah tidak serta merta ke tanah suci tanpa menyisihkan sedikit demi sedikit gajinya.

Saudara saya sudah merencanakan haji untuk 10 tahun ke depan. Saat ini mereka mendaftarkan diri ke badan pemberangkatan jamaah. Melalui itu, saudara saya menyetorkan uang sejumlah tertentu setiap bulannya dalam jangka waktu tertentu. Ada banyak badan yang mengurusi hal ini, tinggal pilih saja. Oh ya, bagaimana dengan kamu? Ingin naik haji dan umrah tapi tidak melakukan apa-apa, hanya berangan-angan saja? Hahaha... Sekadar angan saja tidak cukup. Harus diwujudkan.

Niat kuat untuk berhaji dan umrah


Semua dimula dari niat. Sebut saja saya ingin punya lahan di Jakarta untuk dibangun rumah suatu saat. Apakah tidak boleh berniat seperti itu? Boleh. Semua orang boleh bermimpi punya apapun yang mereka inginkan, tapi apakah mimpi akan terwujud secara cuma-cuma? Tidak bukan? Kuatkan niat terlebih dahulu.

Kemudian buatlah strategi-strategi untuk mencapai mimpi tersebut. Kalau ingin punya rumah di Jakarta, mulailah dari hal sederhana, yaitu berkeliling Jakarta mencari area yang sekiranya masih kosong untuk dibeli. Tidak ada? Mahal? Ah, itu hal selanjutnya yang harus dipikirkan.

Kalau sudah tahu rumah mana yang ingin dibeli, cek isi tabungan. Kalau tidak punya tabungan sama sekali bagaimana? Bikin alternatif, misalnya cari tahu harganya terlebih dahulu, targetkan kapan akan punya uang sampai sejumlah yang ditargetkan, mulai menabung, bekerja lebih keras, mencari sampingan, atau berhutang. Cara terakhir adalah yang paling mudah, berhutang. Berhutang memang bagus, tapi perhatikan risikonya. Jangan lupa juga naikkan jumlah dana akhir yang harus dicapai karena harga tanah setiap tahun naik.




Sama saja kasusnya kalau kita ingin naik haji atau umrah. Survey harganya terlebih dahulu. Biaya yang dibutuhkan untuk umrah saat ini dimulai dari harga Rp23,5juta, sementara itu untuk haji dimulai dari Rp45juta. Untuk punya uang sebesar itu dalam waktu singkat, kita hanya perlu jadi orang kaya atau jadi anak orang kaya atau punya gaji puluhan juta per bulan. 

Lalu bagaimana dengan yang punya gaji pas-pasan? Sementara buat makan saja kadang kesulitan dan harus meminjam uang ke tetangga.

Menabung adalah kunci investasi jangka panjang

Kuncinya menabung. Lah serius? Bukannya gaji pas-pasan dan bahkan harus berhutang? Wait! Coba kamu hitung dalam sebulan pengeluaranmu untuk apa saja? Kalau kita bisa mengatur keuangan dengan baik, berhutang ke teman sebenarnya tidak akan terjadi. Pertama ketahuilah berapa jumlah pemasukan per bulan, kemudian pengeluaran bisa disesuaikan.



Misalnya saya punya gaji Rp3.000.000 per bulan, saya harus mencari kos-kosan dengan harga Rp1.000.000. Anggap saja gaji bersih Rp2.000.000, kemudian anggarkan konsumsi rumah tangga sebesar 40%, cicilan utang (kalau ada) sebesar 30%, untuk sosial (misalnya nongkrong atau belanja pakaian) 10%, dan tabungan atau investasi sebesar 20%. Kalau tidak punya utang, persentase masing-masing anggaran bisa lebih besar. 

Sebesar 30%, yaitu Rp600.000 saya gunakan untuk membayar cicilan utang karena saya membeli smartphone beberapa bulan lalu. Sebagian dipakai untuk membayar cicilan BPJS dan asuransi kesehatan. Kalau tidak punya utang atau cicilan, 30% saya alihkan ke tabungan dan investasi atau dialihkan ke anggaran rumah tangga.

Saya rinci begini, 40% dari Rp2.000.000 sebesar Rp800.000 adalah anggaran rumah tangga. Bisa saya gunakan untuk membeli keperluan bulanan, seperti salat mandi, alat pembersih lantai, dan makanan. Sepertinya saya hanya butuh sekitar 200ribu untuk stok satu bulan (atau malah bisa lebih), sisanya untuk makan. Mungkin untuk makan tidak cukup. Jika tidak punya cicilan utang atau anggaran 30% masih sisa, bisa dialihkan ke anggaran rumah tangga. 



Nah, sebesar 20% adalah tabungan dan investasi, yaitu Rp400.000 adalah tabungan dan investasi. Saya akan bagi dua, sebagian untuk tabungan biasa dan sebagian untuk investasi jangka panjang. Kalau mau berhaji dan umrah dan angaran utang masih sisa, bisa dipakai sebagian untuk ditabung, atau dimasukkan ke anggaran rumah tangga, atau dibagi dua. 




Sementara itu 10% dianggarkan untuk biaya sosial. Biasanya sih untuk kita yang selalu kehabisan uang, biaya untuk sosial cukup tinggi dan tidak terkontrol. Biaya menonton film di bioskop, nongkrong, karaoke, pijat, dan lain-lain seringkali malah menghabiskan uang dalam sekejap.

Rumus 30 : 40 : 20 : 10 mesti saya terapkan agar saya mencapai target, berhaji dan umrah. Bila terpaksa tidak bisa, saya harus mencari penghasilan tambahan, mau tidak mau. Jadi gaji utama bisa digunakan untuk anggaran rumah tangga, untuk sosial, dan utang. Sementara itu tabungan dan investasi didapatkan dari hasil kerja sampingan.

Langkah selanjutnya agar bisa naik haji dan umrah, tentukan targetnya, kapan akan berhaji dan umrah? Anggap saja targetnya 10 tahun lagi kalau haji, sementara kalau umrah 5 tahun ke depan. Nah, kamu bisa mengatur persentase investasi dan tabungan lebih besar. Kalau tidak, saya ulangi lagi, carilah penghasilan tambahan. Tidak ada atau tidak mau berusaha? Terpaksa harus mampatkan pengeluaran. Tidak bisa dan tidak mau juga tapi masih mau berhaji dan umrah? Hem... berdoalah sebanyak-banyaknya! Semoga dimudahkan!

Lamanya antrian dan waktu tunggu calon jamaah haji dan umrah

Muhammad Dzulfahmi, manajer Angkat Koper, dan N. Anie Puspitasari, Chief Marketing Officer Narada Asset Management


Muhammad Dzulfahmi, manajer Angkat Koper (tour/travel haji dan umrah), mengatakan dalam talkshow bersama PT Narada Aset Manajemen, perbedaan umum yang harud kita tahu tentang haji dan umrah adalah pada waktu dan tempat. Umrah bisa dilakukan kapan saja (setiap hari, setiap bulan, setiap tahun) dan hanya di Mekkah. Sementara itu haji hanya bisa dilakukan pada tanggal 8 Dzulhijjah sampai 12 Dzulhijjah di Mekah dan luar Mekkah. Ibadah umrah tidak ada kuota, tapi untuk haji ada kuota yang menyebabkan antrian panjang bagi calon jamaah haji. Lama antrian calon jamaah haji bisa berbeda-beda, mulai dari 16-23 tahun kalau pakai ONH reguler, dan 6-9 tahun untuk ONH plus. Perbedaan waktu calon jamaah haji ini juga berpengaruh pada harganya.

Calon jamaah haji yang membayar mulai dari harga 45juta sudah sepaket dengan transportasi, akomodasi, makanan, dan kebutuhan pokok selama beribadah. Sayangnya kurs dolar selalu berubah sehingga calon jamaah haji harus selalu siap untuk itu. Perhatikan juga pulsa kalau sewaktu-waktu ingin berkomunikasi dengan keluarga, jumlah berat bagasi yang harus dibawa (jangan sampai kelebihan), suntik meningitis, dan pakaian yang sesuai untuk cuaca di tanah suci.

Mengingat waktu tunggu cukup lama, persiapkan dari sekarang. Apalagi kalau kamu punya niat kuat di usia muda, segera diwujudkan dengan jalan menabung untuk investasi jangka panjang. Kalau mau investasi jangka panjang, kamu bisa pilih investasi reksadana saham atau investasi reksadana pasar uang. Investasi reksadana saham dan investasi reksadana pasar uang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, tapi yang jelas investasi reksadana saham dan investasi reksadana pasar uang bagus untuk kita yang sedang merencanakan hal besar di masa depan. 




Investasi reksadana dikelola oleh manajer investasi dan bisa dimulai dari nominal sangat terjangkau, yaitu Rp100.000 dengan tingkat return relatif tinggi berkisar 10%-20% untuk investasi reksadana saham. PT Narada Aset Manajemen, perusahaan manajemen investasi di Jakarta, memperkenalkan produk terbarunya, yaitu Reksadana syariah “Narada Saham Berkah Syariah” dan akan diluncurkan dengan harga NAB 1000.


PT Narada Aset Manajemen melui kampanye “Investasi bukan punya orang kaya saja” dan “Investasi punya semua orang” ingin menunjukkan bahwa investasi juga buat kita yang gajinya pas-pasan. Sebab semua orang juga ingin menabung dan investasi, entah itu investasi reksadana saham atau investasi reksadana pasar uang, atau yang terbaru ini adalah investasi syariah. Melalui investasi ini diharapkan saya dan semua orang bisa mewujudkan cita-cita bisa berhaji dan umrah dalam waktu dekat. (Uwan Urwan)

No comments: