Review Film Venom


Kalau kamu diciptakan jadi inang makhluk lain, parasit apa yang akan kamu pilih? Kalau saya akan menjawab, “Venom.” Haha...


review film venom

Mungkin sudah takdir ya saya menonton Venom, karena sebelumnya sudah berniat untuk menonton Venom tapi ternyata belum tayang. Akhirnya saya menonton yang lain, yaitu Johnny English Strikes Again. Saya tidak akan bercerita tentang Mr Bean kali ini, tapi mau cerita monster, alien lebih tepatnya.

Beberapa kali nonton film, trailer Venom selalu muncul di awal film tayang, juga muncul di beberapa media sosial. Tampaknya menarik dan saya harus akui filmnya sangat layak ditonton. Awal cerita dikisahkan Eddie, seorang wartawan berpacaran dengan Anne. Ya layaknya drama-drama percitaan lain, tiga puluh menit awal memang bisa dibilang, “Ah, drama biasa.” Saya sepakat dan beberapa orang lain akan mengatakan hal sama.

Drama di awal seolah berjalan lambat dan baik-baik saja sampai akhirnya Eddie dipecat karena melakukan wawancara dengan Carlton Drake, pendiri dan pemilik Life Foundation. Anne juga dipecat karena Eddie. Akhirnya mereka putus dan kacaulah kehidupan Eddie. Kemudian Eddie bertemu dengan salah satu ilmuan Life Foundation. Di situlah awal keseruannya. Eddie jadi venom karena kemasukan parasit, alien yang ditemukan di sebuah planet di luar angkasa.

Di sisi lain, ada alien lain yang lepas dan ingin membawa pasukan parasit untuk menghancurkan bumi. Ini bagian yang sangat menarik. Saya saja malas menyalakan smartphone karena bergetar-getar beberapa kali. Sayang rasanya kehilangan momen beberapa detik hanya karena menengok hape.

Drama di awal menurut saya merupakan strategi yang cerdas. Penonton sengaja dibawa ke drama-drama yang sebenarnya tidak diharapkan. Menonton film pahlawan super semacam ini bukannya memang kalau terlalu banyak drama akan membosankan. Saya sih menikmati, mungkin beberapa orang akan bosan dan mengantuk.

Ada banyak adegan lucu yang menurut saya lebih segar ketimbang lelucon di film Johnny English Strikes Again. Saya tidak bilang kalau film Mr Bean tidak lucu, tapi lagi-lagi mungkin karena film superhero, di bayangan penonton, film ini cukup serius dan mencekam, tapi justru tidak. Kelucuan dalam adegannya tidak menghilangkan kesan serius sih. Saya paling ingat adegan saat Anne menjadi inang Venom. Saat itu Anne menyelamatkan Eddie kemudian berciuman. Adegan lain yang saya suka adalah saat Venom menghentikan usaha perampokan di sebuah minimarket. Kemudian Venom memakan kepala perampok itu dan si pemilik terbengong-bengong. Lucu deh, serius!

Sangat saya rekomendasikan untuk ditonton. Aman juga untuk anak-anak kok karena tidak ada darah-darah, cuma tetap harus didampingi ya. Oh iya, kalau nonton jangan pulang terlebih dahulu. Ada dua kali cuplikan aftercredit, hanya saja cuplikan kedua agak lama. Kalau tidak sabar, keluar saja dari bioskop, tapi kamu pasti akan penasaran sampai mau mati rasanya. Hahaha... Becanda. Hem, selamat menonton ya.

No comments: