Festival Sapi Sono’, Kontes Sapi Hias Asli Pamekasan


Stadion R. Soenarto Hadiwidjojo, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, siang itu (20/10/2018) sangat terik. Meski begitu, lapangan sudah dipenuhi orang-orang baik dari masyarakat sekitar, turis lokal, dan turis mancanegara untuk melihat langsung Festival Sapi Sono’.

Kalau di tempat lain orang-orang berbondong-bondong untuk melihat konser musik, teater, fashion show, dan yang berhubungan dengan manusia, masyarakat Madura justru menjadikan sapi-sapi sebagai objek yang dipertontonkan. Sapi sono’ adalah kontes kecantikan sapi. Sapi-sapi lokal terbaik dari Pulau Sapudi itu dihias dengan menggunakan asesoris dengan warna mencolok, merah, hitam, emas, kuning, dan hijau.

festival sapi sono'

Pemilik menghias sapi dengan panggonong, kain yang bersulamkan benang emas (berkilau saat terkena cahaya matahari), beludru merah dan kuning, kayu ukir bentaos dari Karduluk (sentra ukiran di Sumenep), serta kelintingan (yang berbunyi). Asesoris yang dipakai sapi sono’ terdapat rumbai yang bergelantungan.

Sapi terbaik dari Pulau Sapudi
Sapi sono’ adalah sapi pilihan yang sengaja dibeli dari Pulau Sapudi. Pulau Sapudi adalah bagian dari gugusan pulau-pulau di sebelah timur Pulau Madura. Secara administratif pulau itu masuk dalam Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Pulau Sapudi memang terkenal dengan keunggulan kerapan sapinya. Pulau Sapudi memang termasuk memiliki populasi sapi terbanyak di Indonesia. Lagipula Sumenep memang menjadi tempat pelestarian sapi ras Madura terutama di Pulau Sapudi, terutama di Kecamatan Nonggunong dan Gayam).

festival sapi sono'

Sapi yang dipilih untuk kontes adalah yang betina, kuat, bersih, kuku-kukunya terawat, tanduk terpelihara, dan sehat. Sapi sono’ menggunakan sapi betina karena cara mereka berjalan lebih anggun dan bisa mengikuti alunan musik, selain itu sapi jantan banyak dipakai untuk kerapan sapi.

Sono’ secara bahasa berarti masuk. Awalnya sapi di Madura memang dipakai untuk menyambut tamu yang datang, sebagai simbol kesopanan dalam tingkah laku. Tidak heran jika sebagain masyarakat Madura menggunakan sapi untuk menyambut tamu saat melangsungkan acara pernikahan. Sapi sono’ mulanya adalah kebiasaan petani di Pamekasan, di mana setiap sore sapi dimandikan kemudian diikat pada tonggak kayu dan dijejer rapi. Kebiasaan itu kemudian dijadikan kontes oleh masyarakat sekitar untuk menilai mana sapi yang paling cantik. Tak heran jika semakin banyak meraih juara, harga sapi sono’ bisa mencapai ratusan juta atau lebih.

Untuk menghasilkan sepasang sapi cantik berdaya jual mahal tak semudah itu. Pemilik harus rutin merawatnya. Calon-calon sapi kontes dilatih sejak usia tiga tahun dengan perlakuan khusus. Setia seminggu sekali sapi itu diberi jamu yang sudah ditambahkan beberapa butir telur. Secara istimewa, sapi-sapi pun dimandikan layaknya manusia, menggunakan sabun dan sampo khusus. Untuk memastikan kesehatannya, pemilik juga mendatangkan dokter hewan.

Memperingati HUT Jawa Timur ke-73
Festival Sapi Sono’ sudah berlangsung dari tahun ke tahun. Tahun lalu pun berlangsung di lokasi yang sama. Kegiatan itu digelar untuk memeriahkan HUT ke-73 Provinsi Jawa Timur, juga untuk menyambut gelar karapan sapi yang merebut Piala Bergilir Presiden RI. Sapi-sapi huas itu harus melewti rute-rute yang sudah disiapkan. Melalui nomor urut, sapi-sapi itu kemudian berjalan dari garis awal diiringi oleh pemilik dan musik. Orang-orang di belakang yang mengiringi menari sesuai ketukan.


Meski matahari sangat terik dan membakar kulit, peserta tampak bahagia. Mereka berlenggak-lenggok menyesuaikan irama. Langkah kaki sapi pun begitu. Mereka berjalan menuju garis akhir yang berjarak sekitar 200 meter. Budaya unik yang menurut saya patut dilestarikan. Untuk menang dalam kontes ini adalah langkah gerak sapi yang sesuai garis. Ya, bagaimana si sapi-sapi tersebut berjalan dengan anggun bak model tentu menjadi poin utama.

Kebudayaan asli Kabupaten Pamekasan itu memerikan kontribusi pada Indonesia dan menambah satu daftar budaya yang perlu dilertarikan. Tak heran kalau di kabupaten lain di Madura pun tergiur untuk melestarikan budaya itu. Bangga juga karena turis asing pun mau ber
Ya karena unik dan seru. Kalau dari budaya-budaya itu Madura bisa berkembang lebih pesat lagi, bukan tidak mungkin kalau perekonomian dan kesejahteraan masyarakat pun akan terjamin. (Uwan Urwan)

No comments: