Pengobatan Kusta Gratis di Puskesmas

Aku sudah lama memang tahu soal penyakit kusta, tapi tak banyak hal yang kumengerti karena tidak pernah bersinggungan dengan orang yang punya penyakit itu dan tidak ada yang menderita kusta di sekelilingku. Jadi kupikir, tidak perlu cari tahu juga. Begitu aku ikut webinar soal penyakit kusta beberapa waktu lalu, ternyata ada banyak hal yang terlewatkan.

Pengobatan Kusta
Kredit : rsmeilia.co.id


Indonesia ranking tiga kusta terbanyak di dunia

Pengobatan Kusta


Meski aku hampir tidak pernah menemukan orang dengan penyakit kusta, ternyata Indonesia menduduki peringkat ketiga secara global untuk jumlah kasus terbanyak setelah India dan Brazil menurut, dr Astri Ferdiana, Technical Advisor NLR Indonesia. NLR (Netherland Leprosy Relief) Indonesia adalah yayasan nasional dari anggota Aliansi NLR, yang beroperasi di hampir 20 propinsi di Inonesia. NLR Indonesia dibentuk tahun 2018 untuk melanjutkan pencapaian pemberantasan kusta yang telah dilakukan sejak tahun 1975.


Yayasan NLR Indonesia sudah bermitra dengan sejumlah organisasi yang menangani penyandang disabilitas, organisasi masyarakat sipil, institusi pendidikan, kementerian, dan lembaga pemerintah. NLR didirikan di Belanda pada 30 Maret 1967 dan saat ini bekerja di 20 negara di seluruh dunia. NLR Indonesi bekerja untuk menanggulangi kusta yang didukung secara teknis dan finansial oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Sub Direktorat Penanggulanagan Kusta.


Menurut dr Astri, tahun 2020 masih ada enam provinsi yang yang belum bisa mengeliminasi kusta, menekan kasusnya di bawah 1 per 1.000 penduduk. Dari 514 kabupaten di Indonesia, masih ada 98 kabupaten yang belum bisa mengatasi kusta, seperti di beberapa kabupaten di Indonesia timur, di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Barat, dan lain-lain.


Diskriminasi penderita kusta tidak menyelesaikan masalah

Kusta adalah penyakit menular yang merupakan infeksi kronis dari bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini menyerang kulit dan saraf tepi tubuh. Ta heran jika penderita kusta mati rasa meskipun kulitnya disayat-sayat. "Bahayanya di situ," kata dr Astri.


Gejala penyakit kusta sangat sederhana. Orang bisa saja tida sadar karena menganggap penyakit kulit biasa. Penampakannya seperti panu, berupa bercak berwarna merah atau putih. Jika panu bercaknya akan membuat gatal, bercak kusta tidak membuat nyeri, tidak gatal, dan tida bersisik saat digosok. Bila kusta terlambat dideteksi dan diobati akan ada kelainan anatomi dan cacat di beberapa bagian tubuh, seperti di mata, jari tangan, dan kaki.

Pengobatan Kusta


Al Qadri, orang yang pernah menderita kusta dan saat ini menjadi Wakil Ketua Perhimpunan Mandiri Kusta Nasional, awalnya merasa bagian kulit di lutut mati rasa. "Begitu jari sudah buntung dan luka di mana-mana, ada orang yang melihat dan meminta monor saya untuk dibawa ke rumah sakit," ujarnya. 


Begitu tahu menderita kusta, Al Qadri mulai dijauhi teman-temannya, sebab orang tua teman-temannya meminta untuk membatasi kontak dengannya. Baginya perlakuan tersebut lebih menyakitkan daripada penyakit kustanya sendiri. Tak hanya Al Qadri, dr Astri bercerita bahwa banya ksus diskriminasi akibat penyakit kusta. Ada salah satu orang yang ditolak menikah oleh keluaga pasangannya karena kusta. Penderita kusta tak hanya dijauhi oleh lingkungan, tapi juga seolah tida mendapat kesempatan mendapatkan fasilitas umum seperti orang lain.


Pemerintah pun sudah menyediakan pengobatan untuk kusta, gratis. Kusta bisa disembuhkan tapi memang harus tepat dan tuntas. Untuk penderita kusta kering, obat yang harus dikonsumsi selama enam bulan, sementara kusta basah harus meminum obat selama satu tahun. untuk itulah pemerintah, NLR Indonesia, dan beberapa kelompok masyarakat melaukan kampanye-kampanye kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran. Jika ada anggota keluarga terdeteksi kusta, anggota keluarga lain juga perlu melakukan pemeriksaan. Jika ada yang kontak erat, ada obat untuk pencegahan, di mana cukup sekali minum.


Bila sudah melakukan pengobatan, orang yang menderita kusta masih bisa berinteraksi dengan orang lain, "Ga bahaya. Cara pencegahannya gak ada yang spesifik, yang jelas kita harus memutus rantai penularannya dengan mendorong orang yang kena kusta berobat, dan dapat dukungan sosial agar pengobatan tuntas sampai selesai," ujar dr Astri.

No comments: