Bayi Lahir Prematur, Beberapa Perkembangan Organ yang Tak Maksimal

Tentu kelahiran bayi prematur tak asing didengar. Beberapa kondisi memang memungkinkan ibu harus melahirkan bayinya tidak pada usia 9 bulan, tapi kurang dari 37 minggu. Menurut data World Health Organization (WHO), bayi prematur menjadi penyebab 27.800 bayi meninggal setiap tahunnya karena perkembangan janin belum sempurna. Ada 10 negara penyumbang 60% kelahiran bayi prematur di seluruh dunia dan Indonesia berada di peringkat ke-5 penyumbang kelahiran bayi prematur tahun 2010. Sementara itu satu dari 10 anak di dunia lahir prematur. 

Prematur
Kredit : Sepp (Pixabay)


Kelahiran bayi prematur disebabkan oleh ibu

Prematur


Dalam webinar Bicara Gizi yang diselenggarakan oleh Danone Specialized Nutrition Indonesia (Danone SN Indonesia) dengan tema Tantangan dan Penanganan Kesehatan bagi Ibu dan Anak Kelahiran Prematur, Dr. dr. Rima Irwinda, Sp.OG(K) bilang bahwa ada tiga faktor risiko yang berpotensi menyebabkan kelahiran bayi prematur, yaitu

  • Karakteristik ibu.

Biasanya berkaitan dengan usia, kebiasaan merokok, dan kondisi psikologis ibu. Penting untuk tahu usia kurang dari 19 tahun atau lebih dari 35 tahun cukup berisiko melahirkan anak secara prematur. Selai itu stres selama kehamilan juga jumlah cairan ketuban yang tida normal harus segera ditangani

  • Karakteristik nutrisi 

Karakteristik kedua ini berkaitan dengan indeks massa tubuh, kenaikan berat badan selama kehamilan, kebiasaan makan, kebiasaan minum kopi, dan konsumsi suplemen.

  • Karakteristik kehamilan.

Biasanya berkaitan dengan ibu punya riwayat pernah melahirkan anak kembar, ada masalah kesehatan selama kehamilan, dan ada riwayat pemeriksaan USD. Bagi ibu yang pernah punya riwayat keguguran punya risiko akan berisiko 1,9 kali melahirkan anak lagi secara prematur, ibu yang punya riwayat melahirkan secara prematur tiga kali berisiko melahirkan ana lagi secara prematur, dan ibu yang punya riwayat melahirkan secara sesar 2,9 kali lebih berisiko melahirkan ana secara prematur.


Semakin pendek masa kehamilan, makin besar risiko kematian dan morbiditas

Memang tida mudah menjadi ibu karena harus bertanggung jawab atas kelahiran manusia baru lewat tubuhnya. Yang penting, kita harus terus memberi eduksi untuk mendukung kehamilan yang sehat, tetap konsultasi dengan ahlinya, dan paham faktor risiko penyebab kelahiran bayi prematur. 

Anak yang lahr secara prematur punya risiko lebih tinggi lahir dengan masalah kesehatan serius dan jangka panjang. Anak yang lahir prematur kehilangan beberapa tahap yang harus dijalani selama di dalam kandungan sampai lahir dengan normal, tapi itu tida terjadi. Pada usia kandungan minggu ke-30, ukuran janin masih sebesar semangka kecil dengan berat sekitar 1,3 kg. Pada usia ini, organ otaknya berkembang pesat. Tak hanya itu, perkembangan paru-paru dan saluran cerna juga. Sumsum tulang belakang juga sudah mengambil alih untuk produksi sel darah merah.

Pada minggu ke-33 perkembangan otak berada di masa puncak, sel-sel saraf bekerja untuk membuat panca-indera singkron. Pada minggu ke-34 ukuran otak makin besar, janin akan mengambil banyak kalsium dari ibu untuk perkembangan tulangnya. Kalau sudah minggu ke-35, bayi sebenarnya sudah bisa menangis di dalam kandungan, buka mulut, dan bernapas. Saat sudah minggu ke-36, batok kepala bisa bergerak dan tumpang tinduh agar mudah saat proses persalinan.

Bayangkan jika terjadi kelahiran bayi prematur sebelum minggu ke-37 kehamilan apalagi pada usia kurang dari 30 minggu? Ada beberapa tahap perkembangan yang terpotong?


Anak yang lahir prematur bisa hidup sehat

Prematur


Tentu saja anak yang lahir secara prematur masih bisa hidup sehat dan normal seperti orang lain. Anak lahir prematur punya kesulitan beradaptasi dengan kehidupan di luar rahim aibat ketidakmatangan sistem organ tubuhnya, seperti paru-paru, jantung, ginjal, hati, dan sistem pencernaanya. Salah satu upaya meminimalkan dampak negatif selama perawatan adalah menjaga agar BBLR berada di dalam kondisi yang optimal untuk tumbuh kembangnya, salah satunya dengan menerapkan developmental care.

Yang jelas, dalam developmental care ini penting sekali keterlibatan keluarga, meminimalkan stres, dan mengoptimalkan pemberian ASI yang sudah dikenal sebagai nutrisi terbaik untuk bayi. Tida lupa, anak yang lahir prematur perlu dipantau secara berkala sekaligus perawatan dan penanganan khusus juga jadi faktor penting agar anak bisa tumbuh dan berkembang secara optimal. Berikan rasa nyaman juga untuk anak agar bisa memaksimalkan energi untuk mendukung tumbuh kembang sehingga bisa mencapai kondisi kesehatan optimal.

Ibu yang melahirkan juga perlu mendapatkan perhatian agar pulih lebih cepat. Biasanya ibu yang melahirkan anak secara prematur psikologinya tida stabil. Biasanya khawatir berlebihan, stres, juga lelah karena ana perlu perhatian ekstra. Jangan lupa, kalau ada masalah serius pada bayi dan ibu, lebih baik konsultasikan ke dokter agar cepat ditangani. Yuk deteksi dini, faktor risiko, developmental care, bonding time, nutrisi tepat. Kunjungi juga website https://www.nutriclub.co.id dan akun instagram @nutriclub_id untuk mengetahui info lebih lanjut tentang deteksi dini kelahiran prematur.

#BicaraGizi #WorldPrematurityDay

No comments: