Gangguan Jiwa Bukanlah Bahan Tertawaan dan Gosip

Saat ada seseorang mencurahkan perasaannya di media sosial cukup intens, kita menganggap mereka cari perhatian. Tak sedikit yang membenci, tak sedikit yang menghujat, tak sedikit yang mencaci di belakang, tapi begitu orang tersebut melakukan bunuh diri, baru kita berempati. Kadang kita itu hanya perlu sedikit peka dan peduli karena gangguan jiwa itu nyata.”



Kira-kira begitu kata-kata yang pernah orang posting di Tiktok. Aku lupa siapa tapi tidak bisa aku share ulang karena fitur simpan video tidak diaktifkan.


Kesehatan jiwa dan mental, pemasungan, narkoba, dan bunuh diri

Mental yang sehat itu kesejahteraan psikologisnya baik. kalo menurut who adalah orang2 yang menyadari kemampuannya, paham kelebiha paham kekurangan paham potensi, dan apa yang perlu ditingkatkan, dan bisa mengatasi tekanan hidup, mampu bekerja secara produktif, dan mampu berkontribusi dalam kelompok.


Menurut data BNN 3.376.115 orang pernah mengonsumsi narkoba dalam satu tahun ini. sementara itu orang megonsumsi obat-obatan terlarang agar terhindar dari rasa sedih, merasa gembira, terlihat lincah dan energik. Selain karena hal itu, biasanya pengguna narkoba awalnya ingin memuaskan rasa ingin tahu, ikut-ikutan agar dianggap kompak, dan alasan-alasan lain. Pada akhirnya, alasan untuk mencari kesenangan, menghindari masalah, dan agar tahan banting bekerja seharian menurutku jadi alasan utama yang akhirnya orang mau kontinu mengonsumsi narkoba. Permasalah gangguan jiwa jadi lebih berat jika seseorang memilih narkoba sebagai solusinya.


Berdasarkan webinar yang diadakan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 6 Oktober 2021, yang bertema Kesetaraan dalam Kesehatan Jiwa untuk Semua. Kegiatan ini juga untuk memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2021. Dalam webinar itu aku menemukan bahwa orang-orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang berperilaku mengganggu terpaksa dipasung. Ternyata pemasungan masih terjadi di beberapa tempat karena dianggap mengancam masyarakat. Belum lagi stigma dan diskriminasi yang diberikan lingkungan kepada penderita dan keluarga menjadi permasalahan besar, apalagi jika dikucilkan. Pemasungan merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan bisa dilaporkan.


Permasalahan kesehatan jiwa dan mental masih jadi tabu untuk dibahas. Sebagian orang masih menganggap depresi dan stress itu diakibatkan oleh kurangnya iman, kerasukan jin, dan kurang beribadah, padahal tidak selalu. Itulah sebabnya banyak orang lebih memilih memendam emosi daripada bercerita kepada orang lain. Saat emosi menumpuk dan tidak menemukan pelampiasan, bunuh diri jadi satu-satunya solusi. Tahun 2020 tingkat bunuh diri di Indonesia mencapai 3,5 per 100ribu penduduk. Berdasarkan laporan Bank Dunia, tingkat bunuh diri di Indonesia mencapai 2,4 per 100ribu penduduk. Itu berarti di dalam 100ribu orang ada sekitar 2-4 orang yang melakukan bunuh diri.


Minta bantuan tenaga kesehatan bila untuk menangani gangguan jiwa

Kesehatan jiwa merupakan bagian dari kesehatan secara keseluruhan. Sehat jiwa bisa berarti sehat jiwa, fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga mampu hidup mandir, produktif, dan mampu berkontribusi. Gangguan jiwa dimulai pada usia muda sehingga mengakibatkan penurunan produktivitas, kehilangan kualitas hidup, dan perlu pengobatan kronis.


Banyak faktor yang menyebabkan gangguan jiwa, bisa jadi karena faktor biologi karena genetik (misalnya punya keluarga dengan riwayat penyakit mental, trauma fisik, trauma otak, dan lain-lain), psikologi, dan sosial selama perkembangannya. 


Sebagian orang yang aware mengenai kesehatan mental dan jiwa, dengan bijak datang ke psikiater untuk membantu mencari jalan keluar masalahnya. Sebagian yang mengalami gangguan kronis diharuskan mengonsumsi obat rutin. Di Indonesia sudah ada sekitar 6000 layanan kesehatan jiwa termasuk di Puskesmas terdekat. Sebagain masih belum punya layanan khusus tentang kesehatan mental dan jiwa, biasanya dirujuk ke rumah sakit.


Menurut data WHO tahun 2016, terdapat 35juta orang depresi, 60juta orang bipolar, 21 juta orang skizofrenia, dan 47,5juta terkena dimensia. Sedangkan menurut data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, prevalensi gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala depresi dan kecemasan usia 15 tahun ke atas mencapai 14juta orang atau 6% dari jumlah penduduk Indonesia, penderita skizofrenia mencapai 400ribu orang.


Mengenai isu kesehatan jiwa, berikut yang perlu kita lakukan:

  • Sadari bahwa setiap orang punya masalah dan bila ada teman terdapat tanda-tanda depresi, ringankan bebannya dengan mendengarkan masalahnya. Bila tidak sanggup, sarankan ia untuk berkonsultasi dengan dokter atau beri informasi tentang pelayanan murah/gratis untuk konsultasi ke psikiater. Beberapa puskesmas sudah menyediakan layanan untuk kesehatan jiwa.
  • Tidak ngejudge orang. Bila ada orang yang suka marah-marah, cari perhatian di media sosial atau pun di dunia nyata, diamkan saja. Kadang orang memang perlu pelampiasan emosi untuk menenangkan pikirannya. Jika tidak bisa berkomentar yang baik-baik, mending diam.
  • Edukasi orang-orang sekitar bahwa kesehatan jiwa dan mental itu penting. Agar pada saat mereka bermasalah, tidak takut dan malu untuk berkonsultasi ke dokter.

No comments: