Film Koki-Koki Cilik, Film Ringan Sarat Makna

Saya ingat betul beberapa tahun silam, saat melakukan daftar ulang masuk universitas, saya diantar Bapak menuju Kota Malang yang sejuk. Dengan membawa berkas-berkas lengkap, kami meminta bantuan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) untuk meminta keringanan biaya daftar ulang. Kebetulan dana dari kantong Bapak tidak mampu menutupi biaya total yang harus saya bayar. Dengan bantuan mereka, saya dibimbing untuk antri di depan ruang Pembantu Dekan 3, yang mengurusi keuangan mahasiwa. Melalui proses panjang, ke sana ke mari, harus fotokopi ini itu, akhirnya saya diberi waktu perpanjangan untuk melunasinya. Artinya saya bisa menjadi mahasiswa di kampus ternama di Jawa Timur itu.

kredit: celebrity.okezone.com

Tampaknya tak berbeda jauh, Sayangnya dalam film Koki-Koki Cilik pun beberapa potongan kisah seperti mengembalikan ingatan saya tentang mimpi yang harus dikejar. Bima (Farras Fatik) adalah anak kurang beruntung secara ekonomi yang punya hobi memasak. Ia dan ibunya menyisihkan uang di dalam celengan untuk ikut Cooking Camp. Cooking Camp ini diadakan setiap tahun dan ia ingin menang dalam kompetisi ini sehingga bisa mewujudkan mimpinya membangun lagi restoran milik ayahnya.

Begitu terkumpul uang sebesar 10juta, ia pun berniat untuk mendaftar Cooking Camp. Ternyata biaya pendaftaran naik sehingga mereka pun sedih. Melalui sebuah keajaiban (saya lupa detailnya), akhirnya Bima pun bisa ikut Cooking Camp. Peserta lain ternyata termasuk anak kota yang tergolong cukup secara ekonomi. Di situlah ia bertemu dengan Chef Grant (Ringgo Agus Rahman), Audrey (Chloe X), Oliver (Patrick Miligan), Ben (Cole Gribble), Jody (Clay Gribble), Niki (Clarice Cutie), Melly (Alifa Lubis), Key (Romaria Simbolon), Kevin (Marcello), dan Alva (Ali Fikry). Selama Cooking Camp, mereka mendapat tantangan memasak dari Chef Grant yang kemudian dikompetisikan. 

Impian Bima untuk berhasil di Cooking Camp tak berjalan mulus. Ia harus menghadapi beberapa masalah, termasuk ketidaktahuannya tentang beberapa teknik memasak. Kemudian ia bertemu Rama (Morgan Oey), mantan chef di sebuah restoran. Rama membantu mewujudkan impian Bima. 

Film karya Ifa Ifansyah ini menyentuh sekaligus dibalut dengan banyolan ringan. Sebenarnya pun bisa dibilang kombinasi dari ceria, sedih, lucu, dan bahagia. Cocok ditonton semua kalangan usia, meski ada beberapa potong kisah yang terlihat agak kurang singkron jika dibandingkan dengan kehidupan nyata, tapi pesan yang bisa diambil adalah, tidak perlu terlalu berambisi menjadi pemenang, tetapi lakukanlah segalanya dari hati dan sayangi teman-teman sekitar, karena merekalah yang akan membawa kesuksesan kita bertahan di titiknya. Saran saya sih, kamu wajib nonton Koki-koki Cilik. (Uwan Urwan)







3 comments:

Dedy Darmawan said...

Saya ikut prihatin juga kalau cooking class atau lomba masak biayanya 10 juta. Ya? Tapi itulah kehidupan. Kadang gak sinkron.

Uwan Urwan said...

yeayy.. first comment..... iya kak... sementara biaya masuk untuk kompetisi masak di televisi saja tidak sebesar itu

Liana said...

baru tau ada film ini mas, bisa dijadwalkan buat nonton sama keponakan di wiken ini :)