Jangan Menabung Kalau Ingin Hidup Melarat

"Mangkanya kalau punya uang ditabung," kata temanku dulu.

Waktu itu saya masih duduk di bangku SMA kelas XI. Saya masih ingat betul pesannya sampai sekarang. Dia bisa beli handphone. Waktu itu masih zamannya alat komunikasi poliponik. Saya belum punya. Seringkali merepotkan teman hanya untuk sms ke saudara untuk hal-hal penting. Tak jarang juga diabaikan karena tidak diizinkan meminjam atau meminta satu sms saja meski niat hati ingin membayar biaya sms. Waktu itu satu sms masih seharga Rp350 dan itu tergolong mahal. Jika setiap hari menggunakan Rp3.500 untuk 10 sms, satu minggu menghabiskan Rp24.500. Belum lagi jika harus telepon. Biaya sms Rp350 sudah yang paling murah. Belum banyak bermunculan operator seluler pada zaman itu. Tapi poin dari tulisan ini bukan masalah harga telepon dan sms.


Tak sengaja saya bongkar-bongkar lemari dan menemukan secarik kertas. Isinya percakapan saya dengannya. Begini kira-kira

Eh kamu kalo tiap hari dikasih sangu berapa sih?


Berapa ya. Gak sebanyak kamu. Tapi saya jarang jajan di sekolah. Sering puasa. Uangny saya tabung.



Kamu kok bisa nabung sih? Aku kok enggak?



Mangkanya jangan jajan terus. Sering-sering puasa. Aku dua hari kemaren gak dikasih sangu. Gak enak mau minta. Kasian juga sama bapak ibu. Kamu juga gitu. Punya uang ditabung biar kalo mau beli apa yang dipengenin gak bingung. Aku aja beli hape pake uang tabunganku.


Setelah itu tak ada percakapan lanjutan. Nampaknya saya merenung setelah dikasih wejangan, tapi hanya merenung. Sistem regulasi keuangan pribadi layaknya lalu lintas yang ke sana ke mari dengan cepat. Jika mendapat gaji, tiga hari kemudian langsung berada pada kondisi keuangan pas-pasan dan pada pertengahan bulan sudah krisis. Kenapa bisa begitu? Ya, saya kurang bisa mengatur keuangan. Tidak bisa sedikit melihat apa yang diinginkan, langsung dibeli tanpa pikir panjang.

Tenang, tenang. Saya akhir-akhir ini sudah siapkan kotak khusus untuk menyimpan uang receh. Memulai dari yang kecil boleh kan? Sudah terkumpul beberapa receh dari koin Rp100 sampai yang Rp1.000. Jadi, setiap receh yang saya terima, baik dari hasil kembalian atau punya ibu dan bapak di rumah, saya ambil dan masukkan ke dalam kotak itu. Hihi. Dan syaratnya tidak boleh diambil. Sengaja. Soalna tahun lalu saya melakukan hal yang sama, tapi gagal karena kondisi keuangan benar-benar sulit. Sementara itu tidak memungkinkan untuk meminta uang pada bapak dan ibu.

Tabungan receh saya

Kenapa saya harus menabung dengan benar dan punya komitmen kuat untuk itu? Menabung banyak manfaatnya loh. Jika saya kembali lagi pada secarik kertas perbincangan dengan teman saya, harusnya saya sudah bisa beli laptop lagi jika sejak setahun terakhir menabung. Iya kan? Tapi nyatanya saya belum mampu membelinya dengan uang hasil kerja selama ini. Apalagi beberapa kali saya mendengar cerita bahwa dengan menabung, seseorang bisa beli motor, mencicil rumah, menyekolahkan anak, travelling ke luar negeri, sampai berhaji. Itu berkat menabung. Nih ya saya kasih bocoran faedah yang bisa kita ambil kalau menabung, yaitu

Belajar sabar
Buat kita yang boros atau tidak tahan godaan. Jika melihat barang yang lucu atau unik, ingin membeli rasanya, ingin dibawa pulang. Tidak peduli berapa besar uang yang dikeluarkan, kalau sudah ingin benda/jasa yang itu, harus segera dikabulkan. Jika tidak akan terus menjadi beban pikiran bahkan tidak bisa tidur.

Biasanya kasus ini terjadi untuk orang-orang yang punya hobi, hobi yang hanya hobi, tidak untuk dikembangkan dalam bisnis. Jadi buat saya hobi kadang menjerumuskan. Saya pernah kehabisan uang dan akhirnya pinjam uang tetangga karena kalap membeli barang-barang yang memang khusus untuk dikoleksi. Nyatanya barang tersebut tak berfaedah. Hanya membuat senang sesaat saja.

Kalau kamu punya hobi tertentu, cobalah untuk benar-benar bersabar untuk menahan diri tidak membeli barang kalau benar-benar tidak butuh.

Hidup hemat
Dengan meminimalkan pengeluaran untuk ditabung artinya kita lebih hemat. Jadi tahu mana yang harus diprioritaskan dan mana yang tidak. Belum lagi kalau ada pengeluaran mendadak, misalnya uang les tambahan, tetangga meninggal, teman baru melahirkan anak, patungan buat liburan, dan lain-lain. Bayangkan kalau semua uang kita dibelanjakan untuk hal-hal yang tidak berguna? Akan kesulitan untuk ikut liburan dengan teman-teman, pinjam sana-sini untuk beli kado, dan berakhir tidak enak tidur karena terlilit utang.

Punya cadangan uang saat ada kebutuhan mendesak

Senang kalau bisa travelling dari hasil tabungan

Nah poin ini sudah dijelaskan di atas. Pokoknya keuntungan menabung itu ada cadangan uang. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada masa depan. Segalanya harus direncanakan baik-baik meski kadang tidak selalu berhasil. Tiba-tiba kita sakit yang mengakibatkan harus ke dokter. Tahu kan biaya ke berobat ke dokter tidak murah. Belum lagi obatnya. Jika uang di dompet habis, tinggal pakai uang yang ada di tabungan.

Investasi hari tua
Emas bagus untuk investasi jangka panjang

Gila kalau kita boros. Beberapa orang sudah berinvestasi dengan mendaftarkan diri di asuransi. Saat tua dan kita tidak bekerja lagi, tidak perlu pusing-pusing lagi. Atau kalau kita pensiun dari pekerjaan lalu bingung mau bekerja apa lagi, untuk sementara bisa menggunakan uang hasil tabungan kalau tidak punya uang. Investasi bukan hanya dalam bentuk uang lo. Investasi bermacam-macam, bisa emas, barang-barang berharga di rumah, rumah, tanah, dan lain-lain. Nah untuk menabung memang awalnya dalam bentuk uang. Biasanya kalau sudah banyak, uang dibendakan jadi tanah, bangunan, dan lain-lain yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk hal lain. Contohnya saja untuk dikontrakkan, dijadikan kebun buah, dan dijadikan toko atau kafe. 

Menghindari utang
Utang memang menyebalkan. Siapa yang tidak pernah pinjam uang tetangga? Kalau kamu jawab "saya", artinya hebat. Hidup tanpa utang itu indah banget. Hidup jadi nyaman, aman, tenteran, dan sentosa. 

Perencanaan keuangan yang baik bisa menghindarkan diri dari terlilitnya hidup kita dari utang. Saya lagi belajar mengatur keuangan. Dengan pemasukan berapa pun, pengeluaran kudu dipikirkan terlebih dahulu. Ya kecuali untuk investasi sih. Saya biasanya berinvestasi cat air, kertas, kanvas, dan barang-barang mentah untuk kerajinan saya. Jangan khawatir barang itu hilang. Suatu saat pasti berguna. Kalau ada teman menikah, melahirkan anak, butuh dekorasi rumah, tinggal keluarkan koleksi produk seni saya. Ya beberapa orang menyukai dan menghargai karya seni, karena karya-karya seperti itu biasanya cuma ada satu di dunia. 

Lebih menghargai nilai uang
Ini nih poin penting buat saya. Sebelum tersadar, biasanya suka belanja hal tidak penting atau jajan di luar. Uang rasanya tidak berharga. Setiap membeli sesuatu tapi keadaan keuangan mepet, dalam hati selalu membenarkan, "Besok-besok pasti ada rezeki lebih." Ya, prinsip seperti itu berlaku untuk orang yang banting tulang kerja setiap hari dengan gaji harian, misalnya pedagang asongan, penjual siomay, dan pengusaha lain. Tapi untuk saya yang dulu kerja di perusahaan dengan gaji bulanan dan selalu bergantung pada itu, harus benar-benar mengatur keuangan dengan baik. Kalau ada pekerjaan sampingan sih boleh.

Prinsipnya sudah benar sih, cuma harus disesuaikan dengan realita. Mungkin gaji tidak bertambah, tapi insyaallah rezeki lain ada, misalnya ditraktir teman atau tiba-tiba bertemu teman di jalan akhirnya bisa nebeng. Hemat ongkos angkot Rp7ribu. Pasti bisa makan sampai akhir bulan, hanya saja ya begitu, agak terlilit. Ya, akibat kurangnya manajemen keuangan.

Dengan menabung kita bisa menghargai uang sekecil apapun. Kita tidak akan menyepelekan koin Rp100. Tanpa koin Rp100 uang Rp900 tak ada artinya. Seringkali saya temukan uang receh Rp100 dan Rp200 tergeletak di jalan dan tak ada yang mengambilnya. Kalau saya, sudah pasti diambil. Biasanya saya kumpulkan. Entah itu untuk koleksi atau untuk jaga-jaga pada tanggal tua saat receh menjadi sangat berharga.

Bisa disiplin
Nabung bikin hidup jadi disiplin dan tegas, juga berkomitmen. Cuma memang harus dijaga agar stabil. Untuk bulan-bulan awal mungkin kesulitan. Namun jika dijalani dengan baik pasti lancar. Anggap saja setiap hari kita menabung Rp1.000. Pokoknya tidak boleh diambil sampai satu tahun, misalnya. Rp1.000 x 365 hari = Rp365.000. Bisa dibilang ini jumlah yang kecil untuk ukuran masyarakat perkotaan. Tapi jangan dilihat nilainya, perjuangan untuk menghasilkan itu membutuhkan effort tinggi lo. Untuk orang-orang tertentu yang memilih menabung dengan jumlah lebih besar pasti akan terasa sekali. Secara tidak langsung kalau konsisten, kita akan jadi pribadi yang disiplin dan tegas tidak hanya dalam masalah keuangan, tapi hal-hal lain juga.

Mengurangi stres
Saya tidak melakukan survey sih. Hehe. Cuma yang saya rasakan, stres yang dialami orang-orang kebanyakan pasti bersumber dari uang. Manajemen keuangan yang buruk meningkatkan stres. Coba lihat berapa banyak pungli dan koruptor di sekitar kita? Hal-hal seperti ini memang sudah menjadi budaya, cuma harus ditangani secepat mungkin. Mulai dari diri sendiri. Banyak orang menghalalkan segala cara untuk mendapatlan keuntungan lebih buat pribadi. Karena apa? Uang. 

Uang dapat membuat stres lo. Tidak bisa belanja, tidak bisa berobat, tidak bisa membeli barang yang disukai, kadang juga menyebabkan antisosial akibat tidak enak kalau harus ditraktir makan, dan lain-lain. Menambah penyakit iya kan? 

Bisa membeli barang yang diinginkan
Nah ini dia juga yang paling seru. Saya beberapa kali bertemu orang yang bisa membeli rumah dengan hemat dan menabung. Bukan berarti pelit ya. Oh ya jangan lupakan zakat. Insyaallah saya selalu menunaikan zakat setiap mendapat rezeki. Aamiin semoga selalu begitu.  Tak jarang juga saya temui teman yang alhamdulillah bisa mencicil kredit sepeda motor sampai lunas. Mereka juga bisa beli perlengkapan untuk bayi, dekorasi rumah, sampai membiayai anaknya sampai lulus kuliah. Saya adalah contohnya. Saya sekolah sampai perguruan tinggi akibat orangtua yang disiplin dalam menghemat pengeluaran tidak penting. Atau bisa travelling ke luar pulau bersama teman-teman berkat menabung. Seru lagi apalagi bawa oleh-oleh yang dibagi-bagikan kepada saudara. Ada perasaan bangga.

Hai, saya sudah sarjana lo

Nah, bagaimana? Masih ingin boros? Tidak takut stres berkepanjangan akibat tidak punya uang atau dikejar-kejar rentenir? By the way, tulisan ini juga buat saya loh. Setiap menulis, selalu jadi bahan introspeksi buat saya ke depannya. Dan kalau kamu punya uang yang lebih besar, alangkah baiknya kalau ditabung di bank sih. Nabung di bank aman apalagi sudah dijamin Lembaga Penjamin Simpanan Republik Indonesia. Dijaminnya sampai Rp2juta pula.

Siapa yang tidak bahagia jika tabungannya banyak?

Buat kamu yang khawatir uangnya dirampok, dimaling, dimakan rayap, atau pelan-pelan diambil untuk kebutuhan tak terduga, saya sarankan simpan di bank. Kalau tidak di bank umum, masih ada bank syariah kan. Yuk menabung! (Uwan Urwan)

No comments: