Skip to main content

Posts

Showing posts from January 18, 2015

Prosa tanpa Judul

       kali hanya tubuh yang dipermainkan. Disilet, dicacah, dijahit berulang, atau mungkin direbus dalam kuali besar. Ah, nikmat tubuh saat dikecami garam buta, bisu tuli telinga yang menderu-debu tak dapat lagi berwujud kalimat.       Kepalaku pusing meminta nyawa untuk tunduk padanya. Ia berkata, "kenikmatan dunia kenikmatan akhirat. Pilih yang mana dan kau akan menjadi salah satu penguasanya!"       Ah, itu hanya kata. Bayangkan aku tak dapat berbicara lantang. Aku hanya maya dan berdiri di depan kardus kosong. Ah, aku rindu sebenarnya, bukan kata.      Kata seringkali tak dapat bersedih. Ratapan menjadi iba dan tiupan aroma amis merajalela. Aku sering berontak pada maya yang menggelinding di bawah kakiku. Ia menyelinap dan masuk ke dalam pori-pori layaknya cacing yang menggorok tanah. ( Uwan Urwan )

Racauan Tentang... (Ah!)

     Sungguh berat perjalanan cinta. Bagaikan air, anggap saja ia mengalir dari puncak pegunungan berisi dua molekul hidrogen dan satu molekul oksigen sejuk. Mulanya ia merembes dari badan-badan tanah yang dipijak beragam flora. Ia mencari celah terlebar untuk dilalui dan sampailah ke ke titik bertemunya dengan teman-teman baru. Ia berkoloni bagai burung pipit dalam kawanannya di tepian sawah matang.      Gravitasi membawanya makin turun letaknya. Ia dan koloninya saling berlomba menda patka tempat terdepan. Ia tak hanya.membawa tubuh, beragam serpihan yang tak dikenali menempel pada badannya, seperti serpihan klorofil, unsur-unsur logam, dan puing-puing bernyawa lain. Tahu tidak, ia masih terbenam jauh dalam perut gunung-gunung menjulanv. Entah bagaimana ceritanya tanah meninggi bak tebing, aku tak tahu. Pada suatu wilayah yang teramat jauh, tersibaklah matahari. Keluarlah molekul-molekul kaya mineral itu ke atas permukaan tanah. Jalanan makin rendah dan ia selalu ta

Monas, Saksi Bisu Parade Mini

     Waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB. Langit tanggal 10 Januari 2015 biru cerah, debur awan bertabur dalam ronanya, udara mengalir deras, kanopi Samanea saman dan beberapa spesies lain menabur oksigen, sumber kesejukan. Aku baru tiba di pintu Monas, entah pintu yang keberapa. Hiruk-pikuk beragam jenis manusia lalu-lalang meramaikan ikon ibukota. Birunya langit Monas      Rusa-rusa di kandangnya sedang menikmati pemandangan manusia dengan beragam warna pakaian. Mereka berteduh, menyesap kesejukan yang tersiram nikmat untuk paru-paru mereka. Aku pun merasakan hal yang sama. Kulihat beberapa orang sedang berlomba menuju titik tengah monumen bersejarah itu. Beberapa juga menggelar alas untuk bertamasya bersama kerabat. Meski tampak riuh, keringat menelusup melalui pori-pori kain merah yang saya sematkan di badan. Air saya teguk untuk mengendalikan dahaga sehabis berjalan cukup jauh karena memberhentikan kopaja tidak pada titik semestinya. Roti pun lahap dilumat lidah.