Skip to main content

Posts

Menuju Galeri Kecil

Hukum Alam, Lukisan Cat Air A4 Begitulah Tuhan menciptakan alam. Beragam bentuk pertahanan diri demi kelangsungan hidup diciptakan. Di alam bebas, setiap makhluk hidup punya kemampuan melakukan kamuflase atau mimikri. Segala hal tercipta punya hukum, itulah hukum alam. Ada hubungan timbal.balik, piramida kehidupan, dan evolusi. Dalam lukisan ini saya menggambarkan seekor buaya sedang memangsa unggas berkaki tiga (ini makhluk khayalan). Itu alami dan lingkungan memberi respon berbagai rupa. Saya mencoba menggambarkan sesuatu yang indah dan menentramkan justru kematian bagi kebahagiaan itu sendiri, unggas itu contohnya. Senada dengan peribahasa air tenang menghanyutkan. Jadi, tetap berhati-hatilah. ******      Melukis dan membaitkannya dalam sebuah pemaparan membuat saya ingat sosok I Made Wianta, perupa dan penyair asal Denpasar, Bali. Wianta bebas menuliskan kata per kata di atas media yang dia inginkan tanpa memikirkan apakah yang ia tulis penting atau tidak, bermak

Mengilhami Dinding Sel Supermini

Pohon mangga ( Mangifera indica ) setinggi 4 m berdiri kokoh di halaman kantor saya. Daunnya rimbun membentuk payung hidup. Saat berdiri di bawah naungannya, angin sejuk dapat saya rasakan. Tentu saja, oksigen sebagai hasil metabolisme tanaman anggota family Anacardiaceae itu membersihkan karbondioksioda di udara dan digantikan oleh unsur yang bersifat oksidator. Pantas jika setiap orang yang ternaungi, tak hanya terlindung dari terik matahari, tetapi juga merasa segar. Pohon mangga (kredit: irwantoshut.net )        Tanaman itu sangat kokoh dan konsisten berdiri bertahun-tahun bahkan kian tinggi. Meski tidak memiliki rangka seperti hewan dan manusia, tanaman (tak hanya mangga) memiliki rangka-rangka dalam berukuran mikroskopis. Rangka-rangka itu dapat disebut dinding sel. Sebenarnya tidak tepat jika saya mengatakan bahwa dinding sel adalah rangka dalam (endoskeleton) tanaman, tetapi fungsinya mirip dengan sistem rangka pada tubuh hewan. Itu terbukti pada fungsinya yang memberi be

Nasikin dan Sudita Berkacak Lengan

     Sore itu (21/10/14) saya melihat dua awak sedang bersantai di kursi becak. Dua orang laki-laki yang menambatkan becak miliknya sedang tertidur. Rupanya belum ada penumpang yang hendak menggunakan jasanya. Tepat di belakangnya berdiri kokoh warung tenda dan pedagang kaki lima. Pemandangan sederhana itu kontras dengan penggambaran gedung-gedung bertingkat dan jalan layang sebagai latarnya.      Itu potret jalanan tahun 1999. Nasikin Setiono, pelukis ternama di Indonesia, merealisasikan dengan apik di atas kanvas berukuran 100 cm x 100 cm. “Itu sejarah hidup yang pernah ada di Jakarta,” ungkapnya. Pemerintah memang telah melarang becak beroperasi pada akhir 1980-an, tetapi kendaraan itu masih bias ditemui di tempat-tempat tertentu kala itu. [FYI: Becak pertama kali muncul di Jepang pada 1868 (baca : apakabardunia ), sedangkan nama becak diambil dari bahasa Hokkien, salah satu suku penduduk Cina, be chia yang artinya kereta kuda . Transportasi nonbbm itu kini tergantika

Galeri Seni Pekan Arsitek

Mahasiswa Jurusan Arsitektur, Universitas Pancasila (UP) menyulap selasar berbentuk ‘L’ sepanjang 50 m menjadi galeri seni. Beranda beratap itu tampil ciamik di muka gedung Fakultas Teknik tepat di samping taman.       Kegiatan bertajuk “The Golden Pekan Arsitektur 2014” merupakan acara tahunan wajib untuk memperingati ulang tahun berdirinya Jurusan Arsitektur. Demi memolekkan selasar yang fungsinya sebagai lalu lintas, pancang-pancang bambu digelar dan berbagai kreasi terbaik mahasiswa arsitektur dipajang, seperti aneka maket, hasil penelitian, sampai lukisan abstrak. Kreasi-kreasi itu dipamerkan sepekan, terhitung sejak tanggal 20 hingga 27 Oktober 2014.      Kegiatan itu cukup menarik perhatian karena kebetulan saya ditugaskan berkunjung ke pameran itu. Meski rangkaian acaranya cukup panjang, meliputi bazar, kompetisi futsal, seminar, dance , dan pagelaran musik (di akhir acara), pajangan-pajangan itulah yang paling menyedot ketertarikan saya. Pucuk dicinta ulam pun