Skip to main content

Posts

Tiada Alasan Membenci

Suatu ketika saya dihadapkan pada pria separuh baya sedang memukul kepala kucing dengan keras sambil berteriak. Terkejut, kucing itu sontak bersembunyi, meringkuk di bawah mobil. Pria berkumis itu bukan siapa-siapa, dan kucing berwarna hitam dan putih itu juga bukan miliknya. Kucing itu hanya meminta belas kasihan dengan mengeong tak henti. Kucing itu ketakutan. sumber : www.sodahead.com “Dia berak di dalam (rumah, red ) kemaren, Mas,” sahutnya tanpa kutanya. Hati kecil saya ingin melempar sepatu ke arah orang itu, tapi urung. Saya memendam berang, lalu meninggalkan laki-laki itu. Kejadian itu mengingatkan saya beberapa tahun silam, saat bapak sedang marah dan menendang anak kucing peliharaan saya hingga terlempar sejauh 2 m. Saya cuma bisa terhenyak dan sedih karena tidak bisa melakukan apa-apa. Beberapa hari kemudian, saya mendapati pria berkumis itu sedang memberi makan kucing yang ia pukul beberapa hari yang lalu. Ia meletakkan tulang ikan dan kucing itu melahapnya.

Panen Buah Coretan

Corat-coret telah menajdi dunia saya kini. Tiada hari tanpa melakukan kegiatan “nyeleneh” bagi orang lain, tetapi amat berharga bagi saya. Rasanya saya telah meluangkan banyak waktu tak penting untuk hal-hal seperti ini, membuat puisi, menciptakan gambar abstrak, kerap aktif di media sosial, atau sekedar menghabiskan waktu di tempat asing. Aneh sih, tidak, itu hal biasa buat saya. Dan sayangnya semua hasil kerja kurang penting harus saya tulis di sini. Semoga yang membaca postingan ini tersadar dan mulai melakukan hal-hal yang lebih mencerahkan ketimbang kegiatan saya. Yap, ini hasilnya. Anda tak harus membayar bila ingin melihat galeri saya atau mengunduh, lalu share ke mana saja. Gratis. Kecuali jika saya menjadi orang terkenal kelak (hehe...), saya akan berpikir ulang untuk membagikannya ke publik. Siapa tahu hasil penjualan karya-karya tidak bermutu saya bisa difungsikan ke hal-hal bermanfaat bagi orang banyak. ( Uwan Urwan )

CORAT-CORAT CORET-CORET

Lagi-lagi saya harus berterimakasih pada waktu luang, kegalauan, dan otak yang diberikan Tuhan untuk saya. Mungkin ini hanya coretan tidak penting, tapi tidak semua orang bisa melakukannya dengan baik. Beberapa orang menyampaikan ungkapan perasaannya pada orang lain melalui lisan. Sebab mulut saya sulit mengeluarkan manfaat, hanya tangan yang bisa mewujudkannya. Memang bukan faedah besar. Namun saya percaya, semua hal besar dimulai dari hal kecil. Hal kecil diawali dengan sesuatu yang remeh. Sesuatu yang remeh pun sering muncul karena perbuatan tak penting. Yah, beginilah hidup saya. Selalu tidak penting untuk menjadi lebih berguna. Amin. Coretan-coretan kurang berguna itu sudah saya abadikan dalam bentuk foto. Jika memang ada saran atau kritik, sampaikanlah. Hehehe... Toh saya bukan dewa yang haus pujian. Hm... daripada saya   banyak berbicara hal kurang penting, lebih baik simak koleksi coretan saya. ( Uwan Urwan )

CORAT-CORET

Akun blog ini seperti rumah saya yang kesekian kalinya. Harap mahfum, saya punya beberapa akun media sosial, sehingga tidak semua bisa ter update rutin. Paragraf di atas tergolong pengantar kurang baik. Tidak semestinya saya membiarkan tulisan itu tersemat, tetapi entahlah saya tidak bisa membuang kalimat-kalimat itu. Biarkan saja menjadi legenda kecil. Kebetulan saya selalu punya kertas corat-coret. Terlebih lagi saya tidak bisa pergi tanpa meninggalkan tas. Tas menjadi bagian penting karena dapat menampung tiga benda penting seperti, buku catatan, kotak pensil, dan “buku kamuflase”. Buku kamuflase? Hehe... Itu hanya sebutan untuk buku yang selalu direncakan untuk dibaca saat perjalanan tapi selalu berakhir dengan tidak tersentuh sedikit pun. Keasyikan pada dunia luar ternyata membuat saya enggan membuka buku bacaan yang saya bawa. Namun, benda yang kerap lusuh dan sangat dibutuhkan ketika berjalan seorang diri ke suatu tempat hanyalah buku catatan kosong d

Hemat dengan Limbah Biogas

Sumber : satriodamar.wordpress.com        Demam memelihara lele di tanah air membuat peternak getol m emangkas biaya pakan dan operasional. Peternak biasanya menghabiskan 60% biaya pakan dan 20% untuk biaya operasional. Itu belum termasuk penyusutan jumlah lele bila mati. Rujuk Supriyanto, petani dan peternak lele di Desa Pandan Toyo, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur sebelumnya menggunakan sistem konvensional mengalami hal serupa . Ia mengganti air kolam dengan tenaga listrik setiap lima hari sekali hingga bulan ke-3 karena berbau . Bau itu disebabkan amonia dan nitrit pada sisa kotoran dan pakan.      Pada 2010, Rujuk menggunakan sluri sebagai media dasar kolam. Keunggulannya ia tak perlu lagi mengganti air setiap 5 hari sekali. Walaupun kolam berwarna cokelat, air tak berbau . Ia pun irit pakan hingga 20%. Pakai sluri lebih hemat        Rujuk membutuhkan sluri—limbah biogas—setinggi 5—10 cm lalu ia menambah air setinggi 10 cm—dan probiotik 12,5 l