Jempol Buzzer Terbukti Ajaib

Kamu punya Twitter gak? Atau pernah punya Twitter? Kalau jawabannya iya, pasti tidak asing dengan bahasan saya kali ini. Buzzer dan trending topik. Seberapa pentingkah? Apakah perusahaan harus pakai jasa buzzer atau pakai iklan di televisi, internet, koran, atau majalah? Atau kenapa sih itu perusahaan-perusahaan masih kekeuh iklan di televisi? Padahal eranya sekarang sudah berganti. Atau mungkin malah sebaliknya? Kenapa perusahaan itu suka sekali pakai jasa buzzer untuk promosikan kegiatannya? Pentingkah?

Buzzer itu apa?
Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kalau kenalan dulu dengan buzzer. Buzzer bisa diibaratkan selebriti di media sosial. Saat ini saya hanya akan bahas di Twitter. Kenapa disebut selebriti? Yes, karena followers mereka banyak. Kita bisa menyandang status sebagai buzzer jika followerss minimal 1.000. Semakin ke sini, standar buzzer makin naik. Ada perusahaan yang mensyaratkan buzzer harus memiliki followerss minimal 1.500 atau 2.000. Tentu jadi beban tersendiri buat kita yang baru punya followerss segelintir. Buzzer itu agen media sosial, menjadi perantara penyedia produk barang/jasa dengan konsumen. Tak hanya itu, buzzer bukan juga mereka yang punya akun media sosial dengan pengikut banyak, tapi impressionnya tinggi.

Sebelum lebih jauh, saya mencoba kelompokkan karena saya lihat buzzer ada banyak jenisnya
  1. Selebtwit. Menurut saya, mereka itu buzzer terselubung. Karena hobinya ngetwit, bahan twitnya pun khas sehingga jumlah followerssnya banyak dan organik. Tak perlu repot bagi selebtwit untuk memengaruhi banyak orang. Saking percayanya followerss pada idolanya, satu twit bisamendapatkan like dan retweet lebih dari 10. Jadi bayarannya pun jelas dong, per twit sekian ratus/juta rupiah.
  2. Buzzer politik. Buat saya sih buzzer politik belakangan ini isinya negatif dan membuat perdebatan tidak sehat bahkan hoax. Saya masih menyanjung mereka yang menyebarkan prestasi jagoannya ketimbang menyerang lawan politik. Tidak apa-apa dibilang pencitraan, toh selama itu hal baik yang disebarkan, kenapa tidak?
  3. Buzzer blogger. Tugas blogger sekarang makin banyak sejak blogger bekerja dengan menggunakan banyak media sosial. Apalagi persyaratan perusahaan untuk pekerjaan tertentu juga berkaitan dengan itu. Buzzer jenis ini adalah tim hore yang bisa dengan cepat berganti pekerjaan lain. Jika saat ini sedang campaign batik Situbondo, beberapa jam kemudian bisaganti campaign antirokok.

Sepertinya untuk ketiga poin di atas bisa dijabarkan kembali. Jika ada waktu luang akan saya bahas di postingan selanjutnya. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Tergantung kita mau melihat dari sisi mana.

Pekerja media sosial (medsos) apakah hanya buzzer? Tidak, ada beberapa pengelompokan. Pekerjaannya tidak jauh-jauh juga dari buzzer. Kartina Ika Sari, agensi Mitra Branding (MB) mengelompokkan berdasarkan tugasnya,

Menurut Ika, pemeriah ya tugasnya memeriahkan postingan para buzzer (kredit: Krtina Ika Sari)

  1. Influencer atau bisa disebut Key Opinion Leader (KOL). Influencer banyak digunakan perusahaan barang dan jasa untuk promosikan produk mereka. Biasanya influencer harus memosting sesuatu sehalus mungkin, yang membuat orang tidak sadar kalau sedang promosi (soft selling). Influencer terpercaya biasanya artis, tokoh terkemuka, ketua komunitas, atau siapa pun yang punya pengaruh tinggi. Nampaknya influencer juga bisa disebut endorser. Saat ini tokoh berpengaruh memperoleh penghasilan melalui paid promote/endorse melalui media sosial mereka. Tentu saja bayarannya cukup mahal.
  2. Statuser. Statuser adalah orang yang tugasnya bikin status. Hm, kalau status biasanya lebih mengarah ke Facebook ya. Sebenarnya mirip dengan influencer, Cuma medianya saja berbeda.
  3. Buzzer. Ika lebih suka menyebutnya sebagai tim buzzer trending topik. Tujuan Mitra Branding menggunakan jasa buzzer memang untuk membuat trending topik mengenai kasus tertentu. Buzzer itu tukang ramai, meramaikan, tapi belum tentu memberi dampak pada konversi.
  4. Pemeriah. Menurut Ika, pemeriah ya tugasnya memeriahkan postingan para buzzer. Artinya pemeriah ini bukan buzzer. Bisa jadi selama buzzer bekerja, Mitra Branding mengadakan kuis kepada followerssnya untuk meramaikan, retweet, atau juga beropini, sehingga pekerjaan buzzer lebih cepat dan ringan.

Seberapa penting buzzer?    
Penting banget! Kini informasi begitu cepat tersebar melalui media sosial. Tiap orang punya minimal satu smartphone, dalam satu smartphone ada beberapa aplikasi termasuk media sosial, mulai dari Twitter, Instagram, Facebook, Tumblr, Flickr, dan media sosial lain. Tak hanya itu, satu orang bisapunya beberapa akun Twitter, Instagram, dll. Mulai dari akun pribadi, akun bisnis pribadi, akun perusahaan (jika jabatannya berhubungan dengan media sosial), dan akun lain (misalnya akun fake untuk provokasi orang lain, akun curhat yang list pertemanannya bukan orang terdekat, akun cari jodoh, atau akun khusus penipu hati, eaaa). Dari berbagai akun, kita bisa mendapat berbagai macam informasi.

Kamu menemukan status/twit yang sesuai dengan keadaanmu sekarang, pasti tergelitik untuk berkomentar. Entah isinya kesedihan, berita kematian, berita bahagia, dll. Kita mudah sekali tergerak untuk meramaikan suatu postingan. Kadang kita tidak tahu apa postingan teman kita itu sesuai kenyataan, sesuai kenyataan 50% sisanya drama, full drama, bohong, atau hanya imajinasi. Begitu mudah kita tergerak hanya dengan membaca postingan seseorang.

Sering lihat bagaimana orang terkecoh melalui postingan-postingan akun besar, lalu ada komentar negatif, membuli, bahkan ada yang sampai mengeluarkan sumpah serapah? Akibatnya postingan tersebut menjadi viral, jadi bahan pembicaraan orang banyak. See? Itu cara kerja buzzer. Tujuannya memang itu. Mau isinya komentar negatif atau positif, selama targetnya tercapai, artinya campaignnya sukses. Apa kamu tidak berpikir kalau postingan mereka tidak dibayar? Hem hem… (sambil geleng-gelengin kepala dan telunjuk).

Masih berpikir kalau buzzer itu tidak penting? Media massa sekarang pamornya turun, sebab orang sudah jarang baca media cetak, termasuk buku. Hidup orang kekinian itu di gadget. Media online pun harus berjuang keras agar banyak orang melirik medianya. Nah, dari situlah kemudian buzzer banyak dipakai perusahaan untuk promosikan produknya. Melalui kelihaian buzzer, materi kaku dari press release, diolah kembali menjadi seolah-olah buzzer sedang menikmati produk itu. Hm, tapi saya tidak akan berbicara banyak tentang review-review. Yuk fokuskan pada trending topik. Haha.

Senada dengan apa yang disampaikan Kartina, menurutnya kehadiran buzzer itu perlu banget. Saat ini zaman kekuatan netizen. Sebagai upaya menuju good government, yang mutlak adalah transparansi dan optimalkan sosialisasi dan program-program. Hal ini jika sedang menjadi buzzer untuk badan pemerintah. Minimal masyarakat mendapatkan informasi kegiatan apa saja yang sudah dilakukan pemerintah. Tidak hanya pemerintah, badan usaha swasta pun perlu. Sosialisasi penting sebagai branding. Selain itu juga menciptakan reputasi baik. “Syukur-syukur kalau berpengaruh pada peningkatan penjualan,” lanjutnya.


Kenapa harus trending topik?
Trending topik itu apa? Elisa Koraag, blogger sekaligus buzzer senior, menyatakan bahwa trending topik itu kondisi dengan tema atau hastag tertentu yang menjadi topik tren dalam kurun waktu tertentu. Artinya topik tersebut sedang menjadi bahan pembicaraan se-Indonesia atau seantero jagad. “Gunanya untuk mengabarkan pada dunia, pada saat itu topik tersebut sedang dibicarakan dan menguasai jagad maya,” lanjutnya. Ani Berta, blogger dan buzzer kawakan, pun sepakat dengan itu. Menurutnya, trending topik berfungsi sebagai booster informasi yang mudah ditemukan followerss. Jika sudah trending topik, followerss akan terpancing untuk kepoin infomasi dan aktivitas yang sedang dilakukan.
 
Gunanya untuk mengabarkan pada dunia, pada saat itu topik tersebut sedang dibicarakan dan menguasai jagad maya,” kata Elisa Koraag (kredit: Elisa Koraag)


Sering sih saya cek di Twitter, apa sih yang sedang tren saat ini. Ada beragam topik, tapi yang paling menarik perhatian adalah yang menjadi trending topik pertama. Sering saya kepoin mengenai pembahasan topik tersebut. Kalau menarik, biasanya saya ikut nimbrung. Dalam satu minggu selalu ada hastag yang selalu ada dan stabil menjadi trending topik, di antaranya #jumatberkah, #harisenin, #TGIF, dan lain-lain. Beberapa akun besar justru tak perlu mengeluarkan banyak effort untuk membuat topik yang sedang dibicarakan menjadi tren. Cukup membuat pemberitahuan melalui akunnya, pasti followerssnya dengan setia menyimak topik-topik tersebut, misalnya #puisimalam. Begitu terpercayanya akun tersebut sampai banyak yang berpartisipasi sampai jadi trending topik.

Fungsinya apa sih trending topik itu? Ya selain dibicarakan banyak orang juga sebagai awareness. Kalau sebuah perusahaan mengadakan kegiatan dan menjadi trending topik di Twitter, akan menarik perhatian banyak orang, sehingga penasaran untuk cek apa saja yang sedang dibahas. Minimal orang mendapatkan informasi mengenai kegiatan atau produk yang sedang dibicarakan. “Untuk penjualan belum tentu,” lanjut Elisa. Benar juga sih. Iklan di televisi dan media lain pun sama. Tidak semua iklan berpengaruh pada penjualan, tapi jadi awareness, memberitahu kalau ada produk baru yang bisa dibeli dan dicoba. Untuk selera kembali pada konsumen. Kalau konsumen suka, mereka akan rutin membeli. Menurut Elisa, iklan pemberitahuan mengenai produk baru setara dengan trending topik.

Ada iklan mengingatkan, seperti produk sirup menjelang idul fitri. Tidak harus trending toping pertama, trending topik cukup. Kalau tidak masuk trending topik, berarti citra perusahaan tersebut bermasalah. Masyarakat sudah persepsikan jika ada iklan sirup, artinya idul fitri sudah dekat. Pekerjaan buzzer berbeda dengan iklan di media massa. Biaya untuk iklan sangat tinggi, bisa ratusan juta rupiah untuk durasi iklan beberapa menit. Kalau campaign buzzer berefek pada penjualan, itu bonus.

Kalau trending topik, followerss akan terpancing untuk kepoin infomasi dan aktivitas yang sedang dilakukan. (kredit: Ani Berta)
Lalu kalau sudah trending topik itu bagaimana? Hm, pertanyaan ini maksudnya bagaimana ya? Hahaha. Begini, keberhasilan suatu campaign itu ditentukan oleh apakah campaign tersebut trending topik atau tidak? Jika trending topik, artinya berhasil. Menurut Widya Candra Dewi, blogger dan mahasiswa yang sedang penelitian tentang pemasaran, menyatakan bahwa klien akan puas dengan hasil kerja buzzer. Kemungkinan besar, klien atau agensi akan menggunakan jasa buzzer tersebut. Pengaruhnya juga ke engagement twit buzzer. Kalau tidak trending topik, engagementnya sangat kecil. “Ya gak banget sih, cuma jauh berkali lipat dari twit biasa. Ini kalau kita belum akun seleb ya,” ungkap Widya.

Syarat buzzer
Banyak yang bertanya, bagaimana sih cara menjadi buzzer? Menjadi buzzer artinya bisa menghasilkan uang dari media sosial (Twitter). Orang-orang ingin menghasilkan uang dari media sosial, tinggal duduk manis dan bermain telepon pintar. Kemudian uang dating dengan sendirinya. Well, saya akan bilang, “Gak gampang jadi buzzer.” Kalau kamu perhatikan awal-awal paragraf yang saya tulis dalam postingan ini, buzzer itu diibaratkan selebriti. Selebriti itu punya pengaruh. Saya tidak bilang semua buzzer itu artis yang selalu tampil di layar kaca dengan baju mahal dan bedak tebal. Tidak. Buzzer bisa jadi manusia biasa dengan pakaian sederhana. Wong kerjanya online kok. Beberapa agensi punya standar sendiri dalam memilih buzzer. Mengingat banyak blogger yang merangkap jadi buzzer dan followerssnya cukup banyak.
 
Jika trending topik, artinya berhasil dan klien akan puas dengan hasil kerja buzzer. (Kredit: Widya Candra Dewi)

Kartina Ika Sari, bisa dibilang cukup selektif dalam memilih calon buzzer/statuser/influencer. Ia berharap buzzer bukan hanya orang yang mampu promosikan dan membuat trending topik saja, tapi ada hal lain, antara lain
  1. Berakhlak baik, tidak suka nyinyir (nyindir, red), menebar kebencian, dan berkomentar negatif. Poin ini berhubungan dengan keberkahan bisnis brandnya karena Mitra Branding ingin maju dan menyejahterakan.
  2. Minimal punya 1.000 followerss. Syarat ini juga banyak dipakai agensi, termasuk Ani Berta dan Elisa Koraag.
  3. Usahakan punya pengaruh yang baik di komunitas dan lingkungannya.
  4. Buzzer itu tidak selalu blogger, tapi pilih yang aktif di media sosial. Misalya brand oli, lebih baik pilih yang aktif di komunitas otomotif.
  5. Optimis. Buzzer harus optimis dan lebih banyak punya pemikiran positif.
  6. Tidak punya reputasi buruk dan bukan public enemy. Hal ini menyangkut energi baik yang akan disampaikan saat bekerja.
  7. Kalau bisa memotret malah lebih bagus

Bagaimana? Masuk kriteria? Apa? Tidak? Tenang. Setiap agensi punya standar berbeda. Jangan pernah patah semangat. Yang saya tahu, untuk jadi buzzer yang terpenting itu poin nomor dua dan saya cukup setuju dengan poin lain sih. Wkwk.. Yang tak kalah penting nomor empat. Buzzer harus aktif menurut saya. Jadi Twitter tidak hanya dipakai pada saat ada job saja, tapi pada hari-hari biasanya. Itu menyangkut kepercayaan followerss kita. Jika kita hanya muncul pada saat ada job, bisa dipastikan postingan kita lebih mudah diabaikan. Interaksi itu penting. Orang yang sering berinteraksi dengan teman-teman dunia maya, pada saat sedang ngebuzzer, mereka juga kemungkinan besar akan berkontribusi. Minimal beri love atau retweet. Sesederhana itu? Tidak juga sih.

Berinteraksi dengan orang tidak dikenal itu lebih banyak serunya. Kadang tanpa memandang status, kita belajar banyak hal. Saat dibutuhkan, orang tersebut bisa datang meminta tolong atau memberi bantuan. Bersyukurlah jika diberi pekerjaan. Aamiin. Ya, tidak harus menjilat, Cuma perlakukan orang lain sebagaimana mestinya. Mengenai rezeki sudah ada yang atur, tinggal bagaimana kita memanfaatkan momen.

Ada banyak cara untuk mendapatkan job untuk jadi buzzer berdasarkan pengalaman saya
  1. Sering berinteraksi dengan orang-orang, entah itu yang followerssnya banyak atau tidak. Ingat, rezeki bukan kita yang beri dan tidak ditentukan oleh jumlah followerss.
  2. Bergabunglah dengan komunitas baik online maupun offline. Rezeki juga bisa datang dari komunitas. Sering-sering pantengin grup jika grup itu tingkat berbagi kemanfaatannya tinggi.
  3. Perbanyak jumlah followerss. Buzzer harus menyampaikan informasi kepada sebanyak-banyaknya orang. Semakin banyak semakin baik. Meski jumlah followerss sudah 2.000, bukan berarti kita stop dan bangga atas pencapaian itu. Ya meski followerss kadang bisa jadi sangat fana.
  4. Usahakan tidak beli followerss. Saya paling anti beli followerss. Ada seninya sih berjuang menambah followerss. Kita harus follow teman seprofesi. Oh ya, kalau kamu blogger dan followerss kurang dari 1.000, follow semua akun dengan bio “blogger”. Kemungkinan besar difollow back. Jika tidak, mention saja minta difollow back. Tidak sehari dua hari followerss langsung jadi 1.000, tapi pelan-pelan. Ya, harus sabar, tetap berinteraksi, tidak baper, dan semangat.
  5. Saling berbagi informasi. Percayalah, semakin banyak berbagi, rezeki kita akan datang dengan sendirinya. Kadang tiba-tiba kita ditawari pekerjaan, entah ngebuzzing atau yang lain.
  6. Tidak usah iri dengan orang lain yang sering mendapatkan job online. Kita tidak tahu bukan pengorbanan mereka seperti apa? Tetap tingkatkan kualitas dan selalu perbaiki diri. Hayyaaah, saya yang tidak suci ini mencoba berceramah.

Bagaimana? Masih banyak yang ingin saya share tentang buzzer, ngebuzz, dan kawan-kawan. Salah satunya sih bagaimana cara agar postingan kita bisa trending topik? Sengaja saya pisah karena postingan ini sudah cukup panjang dan kamu tampaknya mulai pusing membaca artikel sepanjang ini. Akan ada teknik khusus dari Ani Berta lo. Pasti kamu tak akan sabar menanti tulisan berikutnya. Untuk sementara saya sudahi sampai di sini ya. Wassalam. (Uwan Urwan)


Referensi
https://www.labana.id/view/apa-sih-yang-dimaksud-buzzer-di-media-sosial/2016/09/19/?fullview

32 comments:

Lathifah Edib said...

Jadi buzzer itu membuat pundi2 kenangan yang hilang balik lagi. #apaansih maksudnya pundi2 atm gak kosong. 😂

Dewi Nuryanti said...

Setuju banget tuh dengan kalimat ngga usah ngiri dg orang lain yg dpt job, terus meningkatkan kualitas nnt datang kog giliran kita yang dihampiri job. Jadi buzzer ada enak ngga enaknya juga sih,sering dianggap nyepam ujung ujungnya diunfol deh wkwkwk. Tp seru krn ngga mesti keluar rmh, sambil ngemil pun bs datangin uang.

Nova said...

Alhamdulilah..beberapa kali dapat ngebuzzer..nyicipin es cendol rasa Twitter heheehe

Yurmawita Adismal said...

Mau dong ikutan nge buzzer haha

Gita siwi said...

Akh hari ini selesai ngebuzzer ada yang WA berapa fee kamu buat IG git? xoxoxo...Pekerjaan diSosmed itu sangat menyenangkan bagi aku. Dengan keterbatasan 140 karakter kita dituntut kreatif tanpa menghilangkan pesan penting yang ingin disampaikan dalam brand/klien tersebut. Say hello dengan follower juga penting.

Nunu Halimi said...

Wow..insightful banget kak..alhamdulillah sekarang selain ngeblog saya udah dapat kesempatan ikut beberapa project buzzer... interaksi sesama buzzer yang baru kenal ini menarik, karena biasanya saya suka agak kurang cepat dapat feel sama orang yang belum saya kenal, tapi sejak nge buzz ya ngalir aja...dan penting banget yaa ngumpulin followers organik, real people..bukan beli..masih berjuang nih....

Ani Berta said...

Semangatlah pokoknya :D

Pojok Moco said...

mencerahkan banget kak !

Evi Fadliah said...

Beberapa kali terlibat dalam buzzer, ternyata selain menggunakan kecepatan si jempol, kecepatan kita dalam merangkai kata sekreatif mungkin sangat terlatih.

Tak jarang, beberapa buzzer sudah menyiapkan konsepnya beberapa jam sebelumnya, demi apa? Demi memberikan hasil yang maksimal, So Semangat terus..!!

TFS Mas, so informatif.

Endah Kurnia Wirawati said...

Wahhh buzzer.. sy belum siap nih jd buzzer secara medsos msh minim follower..
Mudah2an bs segera nambah follower organik yg banyak..

Bambang Irwanto said...

Tulisannya keren, Mas.
Saya kadang ingin jadi buzzer seperti teman-teman. Tapi lihat jumlah followers, saya langsung mesem-mesem. Saya harus menikmati proses dulu hehehe. Terima kasih sharingnya, Mas.

Melinda Niswantari said...

ternyata enak juga ya jadi buzzer, nda pelu keluar rumah dompet bisa tebal hehe. Yang dibutuhkan emang kecepatan dalam bekerja alias otak kudu encer supaya menghasilkan tulisan-tulisan yang kreatif. Sekali dapet tawaran buzzer jadi nagih haha.

Btw postingannya bermnafaat sekali kaka, TFS ya :)

Mas Edy Masrur said...

Sekarang ada saja ya celah perputaran uang. Buzzer bisa jadi profesi tanpa kantor, jadi bisa sambil jalan-jalan hehe

Vika said...

Aku jadi follower ajaa..bellum sanggup jadi selebriti..hahhahaha

Bang Doel said...

Banyak belajar nih dari para buzzer disini. Saya belum pernah dapet buzzer di social media, mungkin kebanyakan nyinyir kali ya hehe

travelovertravelogue said...

wah.. kalo gtu saya belum bisa jadi buzzer ni.. selain follower baru dikit, influencenya ga bagus juga.. hehehehe...

andreas said...

Baru tahu pengertian buzzer, trimakasih infonya gan

Estka Eko Fadhil said...

Suatu saat nanti saya akan jadi buzzer!

Ahahha angan angan..

Tapi makasih banyak banget infonya bang uwan.. mungkin abis ini ada tips untuk jadi buzzer seperti tips bang uwan tentang follower instagram. Hehe

Akhirnya saya bisa baca baca setelah template barunya makin asik buat dicicipi :'3

ben benavita said...

Dan bena pernah berada di semua posisi itu :))

Statuser, buzzer, pemeriah, influencer. Sungguh.

Lia Lathifa said...

wah sharingnya mantap nih, jadi ngerti gimana tugasnya buzzer. Memang ya nyari follower organik itu susah-susah gampang, kitanya sebaiknya punya "personal branding", jadi dengan sendirinya banyak yg ngeadd kita tanpa diminta

Novarina DW said...

Sama dengan mas Bambang Irwanto. Untuk menhadi buzzer keren, saya masih harus banyak belajar untuk meningkatkan kualitas diri. Sharingnya top, mas. Sangat bermanfaat :)

Munasya said...

Follower saya masih dikit dibawah 1k mangkanya susah daftar jadi buzzer

Anjar Setyoko said...

Sangat membuka mata saya mas terkait dengan buzzer. Saya berfikiran sih di era sekarang perusahaan mana yang berkuasa dan kuat di media sosial ya dialah pemenang persaingan itu. makannya perusahaan pada rekrut jasa buzzer. Padahal sebenarnya produk yang dia tawarkan itu biasa saja. dan belum tentu lebih bagus dibanding pesaingnya. Oleh karena itu saya lebih suka menyebut buzzer sebagai arena pencitraan sebuah brand.

Evi said...

Dengan makin majunya sosial media seperti Twitter dengan sendirinya lapangan pekerjaan juga semakin terbuka. Yang menguntungkan dari sosial media atau menjadi bazar ini adalah kita tidak perlu melamar pekerjaan, meningkatkan follower dan dan percakapan murni usaha sendiri. Begitu juga dalam mengumpulkan follower dan memperluas jaringan kerja, harus dilakukan sendiri. Butuh kerja keras untuk menjadi seorang pelajar yang baik

Anonymous said...

Pelajar ganti jadi buzzer. Maap typo

Tira Soekardi said...

wah buzzer , aku amh bleum bisa kali ya, semakin bsia mencari aung dr medsos ya, tentunya untuk hal yg positif

GUS BOLANG ADVENTURE said...

Buzzer ...kemaren sempet di tawarin tapi job rumah tangga sudah fullll banget ...jadi saya tolak mas .. wah artikel sampean sungguh bermanfat

heripal danindra said...

Artikelnya mudah dipahami, saya masih harus banyak belajar nih tentang Buzzer. Nice infonya

Ika Hardiyan Aksari said...

PR banget soal, jangan aktif kalo pas ada job aja. Hihi

muti mimut said...

Menarik sharing ilmu buzzernya, menambah follower secara organik memang perlu waktu gak bisa instant :)

Wichan said...

Bhahahahah, aku hits. Semoga menjadi amal jariyah. Aamiin.

Matius Teguh Nugroho said...

Buzzer memang ampuh, kak. Kalau ada event, pasti diundang awak media dan blogger buat bikin trending topic hehe