Bahan Bakar Ramah Lingkungan

November 28, 2016

Global warming disebabkan oleh gas rumah kaca (kredit: planetsave.com)
Kekhawatiran dunia jika sumber bahan bakar minyak dunia habis sudah menjadi sorotan sejak lama. Terlebih lagi isu global warming mencuat akibat kerusakan alam menuai komentar miris bagi pemerhati lingkungan. Dunia telah mengalami pemanasan global yang kian hari kian meluas. Meningkatnya jumlah industri dan sarana transportasi di dunia tentu saja diikuti dengan meningkatnya jumlah bbm yang digunakan kian memperkeruh krisis ini.


Penggunaan bbm dari fosil menambah jumlah CO2 di udara. Menurut Sulistyono dalam risetnya yang berjudul “Pemanasan Global (Global Warming) Dan Hubungannya Dengan Penggunaan Bahan Bakar Fosil” menjelaskan bahwa perubahan   iklim   yang   semakin berbahaya ini didorong oleh peningkatan produksi  buangan  gas  rumah  kaca  dihasilkan oleh tindakan-tindakan manusia.  Peningkatan  gas  rumah  kaca yang  paling  membahayakan  disebabkan oleh buangan CO2 yang diakibatkan oleh tingginya pembakaran bahan-bakar fosil, operasi-operasi komersial, sarana transportasi dan aktivitas-aktivitas militer. Jelas bahan bakar fosil yang dimaksud adalah bbm.

Saat atmosfer semakin mengandung gas rumah kaca, akan kian menjadi insulator yang menahan banyak panas dari matahari yang dipancarkan ke bumi. Seharusnya panas yang dipancarkan ke bumi dipantulkan kembali ke luar angkasa, tapi dengan adanya gas rumah kaca, panas bumi tertahan dan dipantukan kembali ke bumi. Pernah merasa di kotamu terasa semakin panas, berbeda dengan beberapa puluh tahun sebelumnya? Yang paling terasa sih bagi orang-orang yang tinggal di daerah dataran tinggi. Saat ini suhu rata-rata tidak akan sedingin dulu. Orang-orang di berbagai belahan dunia serentak mencanangkan mengurangi emisi gas rumah kaca dengan banyak alternatif, salah satunya mengganti sumber bahan bahar BBM, seperti bioetanol, biofuel, dan biogas yang terbukti aman terhadap lingkungan.
Kebijakan Pemerintah
Masalah BBM memang tergolong rumit jika secara serentak digantikan dengan bahan bakar yang lebih alami. Perlu penelitian lebih lanjut dan selama beberapa tahun terakhir banyak penelitian menunjukkan bahwa bahan bakar motor dapat dihasilkan dari makhluk hidup yang ada di sekitar, misalnya tumbuhan dan organisme.

Tabung gas yang dipakai mayoritas masyarakat (kredit: www.pertamina.com)
Pernah ingat kebijakan Jusuf Kalla tahun 2008 tentang konversi bahan bakar minyak tanah ke gas? Kalau tidak, perhatikan saat ini setiap rumah memiliki tabung gas LPG kecil untuk memenuhi kebutuhan memasak di dapur. Kebijakan ini cukup menuai kontroversi di berbagai lini. Kini kita semua bisa merasakan nikmatnya memasak menggunakan gas, tanpa emisi, harganya terjangkau, dan praktis. Masyaralat kini merasakan manfaat kebijakan pemerintah kala itu.

Itu salah satu contoh berani untuk mengurangi pencemaran udara. Salah satu perubahan besar-besaran yang dilakukan pemerintah juga melalui Pertamina. Sebagai lokomotif perekonomian bangsa, Pertamina merupakan perusahaan milik negara yang bergerak di bidang energi meliputi minyak, gas, serta energi baru dan terbarukan. Pertamina resmi berdiri pada 10 Desember 1957 sudah melakukan perubahan banyak perubahan, salah satunya dengan menambahkan biopremium dan biosolar sebagai salah satu produknya, meski belum di semua pom bensin sih.

Bioetanol tergolong solusi terkini mengatasi pencemaran akibat hasil pembakaran bahan bakar fosil (kredit: assets.kidnesia.com)
Tahun 2010, saat saya masih aktif menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi, saya bersama teman-teman sempat membahas tentang bioetanol sebagai alternatif bahan bakar fosil. Bioetanol adalah etanol yang dihasilkan dari fermentasi glukosa (gula) yang dilanjutkan dengan proses distilasi. Proses distilasi dapat menghasilkan etanol dengan kadar 95% volume, untuk digunakan sebagai bahan bakar (biofuel) perlu lebih dimurnikan lagi hingga mencapai 99% yang lazim disebut fuel grade etanol (Damianus, 2010). Menurut beberapa penelitian, penambahan bioetanol pada bensin mampu mengurangi emisi gas buangan dari motor dan meningkatkan performa motor bensin lebih baik jika dibandingkan jika hanya menggunakan bensin.

Selain sebagai bahan pangan, karbohidrat juga dapat menghasilkan bioetanol setelah diproses (kredit: http://www.satujam.com)
Semua tanaman yang mengandung karbohidrat (gula, pati, selulosa, dan hemiselulosa) bisa disulap menjadi bioetanol, misalnya singkong, beras, jagung, sorgum, tebu, nira, aren, ampas tebu, sampah organik, dan lain-lain. Beberapa sumber makanan pokok dapat dipakai, tetapi menuai kontroversi. Sebab mengurangi persediaan makanan pokok, tapi alternatif terbaik menggunakan biomassa berselulosa. Biomassa berselulosa tersedia melimpah di alam dan murah. Jika saat ini produksi etanol nasional menggunakan tetes tebu, singkong, dan jagung, sampah organik tentu bisa dipakai (Wymann, 2002).


Pertamina Solusi Bahan Bakar Berkualitas dan Ramah Lingkungan. Saya setuju sih. Biopremium dan biosolar menjadi alternatif masa kini. Tak usah diragukan lagi tentang keramahannya terhadap lingkungan. Pertamina berusaha menjaga kualitas udara dan ecara konkrit menunjukkan sikap peduli terhadap lingkungan, misalnya taat peraturan perundang-undangan, juga melakukan uji emisi gas buang terhadap kendaraan yang berada di lingkungan kantor pusat Pertamina sesuai Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, dan Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 92 Tahun 2007 tentang Uji Emisi Kendaraan Bermotor, dan Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 31 Tahun 2008 tentang Baku Mutu Emisi Kendaraan Bermotor.

Kembali pada biopremium dan biosolar, sebenarnya apa sih bedanya? biopremium adalah nama lain dari bioetanol. biopremium digunakan sebagai subtitusi dari premium. Sedangkan biosolar merupakan kombinasi solar dengan crude palm oil (CPO). Pertamina terbukti berusaha menyelamatkan alam. Pertamina juga sudah memperluas jaringan SPBU di berbagai daerah dan menghususkan produk biosolar, artinya solar sudah tidak dijual. 
SPBU tersebar di berbagai pelosok (kredit: pribadi)
Saya percaya melalui uraian di atas bahwa bbm yang dikeluarkan pertamina berkualitas. Tentu saja sudah mengalami pengujian sebelum sampai di tangan konsumen. Pertamina mengeluarkan banyak produk, yaitu Bahan Bakar Minyak (BBM), Non BBM, Gas, Petrokimia, dan Pelumas. Rincian prduknya bahan bakarnya sebagai berikut;

Bahan Bakar Minyak (BBM)
Produk BBM yang terdiri dari :
  • Minyak Bensin
  • Minyak Tanah
  • Minyak Solar
  • Minyak Diesel
  • Minyak Bakar

Bahan Bakar Khusus (BBK) 
Produk BBK yang terdiri dari :
  • Aviation Gasoline (BBM pesawat udara)
  • Aviation Turbine Fuel (BBM pesawat udara ber-turbin)
  • Bio Pertamax
  • Bio Solar
  • Pertamax
  • Pertamax Plus
  • Pertamina Dex
  • Pertamax Racing
  • Premium
Bahan Bakar Subsidi Produk Bahan Bakar Subsidi yang terdiri dari :
  • Bio Solar
  • Premium 
 Pertamina Solusi Bahan Bakar Berkualitas dan Ramah Lingkungan
Pertamina mengeluarkan BBM beroktan tinggi. Nikai oktan premium 88, pertalite 90, pertamax 92, dan pertamax plus 95. Apa sih nilai oktan? Nilai oktan adalah tingkatan bahan bakar yang menunjukkan tekanan yang diberikan saat bakan bakar terbakar spontan. Semakin tinggi nilai oktannya, BBM terbakar kian lambat. Sehingga tidak meninggalkan residu pada mesin yang dapat mengganggu kinerjanya. Jika dijelaskan lebih lanjut, tekanan yang berlebihan pada ruang bakar menyebabkan campuran udara dan dan bahan bakar terbakar sendiri sebelum terjadi percikan bunga api pada busi. Hal ini menyebabkan knocking, di mana akan timbul bunyi ketukan yang mempercepat rusaknya komponen pada mesin. Untuk itulah bahan bakar beroktan tinggi baik untuk mesin dan cocok untuk kendaraan yang menggunakan kompresi tinggi.

Jika dibandingkan dengan standar nilai oktan bahan bakar di beberapa negara, di Indonesia lebih tinggi nilai oktan premiumnya dibandingkan Amerika Serikat yang standarnya 87. Sementara itu, bensin standar di Eropa nilai oktannya 91, dan 92 untuk di Taiwan. Harga BBM pun terjangkau. Meski sempat beberapa kali mengalami kenaikan harga, tapi harga yang ditawarkan masih tergolong bisa dijangkau oleh semua kalangan. Terlebih jika mengingat kualitas yang diberikan. Namun untuk bahan bakar khusus (BBK) harga masing-masing produk di setiap provinsi berbeda.

BBM ramah lingkungan
Nilai oktan tinggi ramah lingkungan (kredit: http://www.p-wec.org)
BBM dari Pertamina tergolong ramah lingkungan. Bisa kita lihat dari nilai oktannya. Semakin tinggi nilai oktannya akan semakin ramah lingkungan. Terlebih lagi untuk produk biopremium dan bisolarnya, tentu saja ramah lingkungan. Saya percaya akan produk-produk alam yang tak berbahaya bagi makhluk hidup di dalamnya, kecuali jika jumlahnya berlebih. Jika dibandingkan dengan bahan bakar yang masih berasal dari fosil, produk yang berasal dari bahan alam jauh lebih sehat, juga dapat diperbaharui.

Indonesia tergolong negara dengan kelimpahan sumber daya alam tinggi. Bahkan ada istilah "tongkat kayu dan batu jadi tanaman". Kalau pun beberapa produk Pertamina masih dihasilkan dari fosil, perhatikan kembali nilai oktannya. Tingginya nilai oktan pada bahan bakar Pertamina jelas merupakan solusi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Ke depannya diharapkan Pertamina melakukan inovasi kembali dengan benar-benar memanfaatkan apa yang ada di alam.

Di sektor non-BBM, Pertamina melakukan inovasi juga. Inovasi terkini, yaitu Bright Gas Hemat. Apa sih Bright Gas Hemat? Tahu LPG, bukan? LPG merupakan gas hidrokarbon produksi dari kilang minyak dan kilang gas dengan komponen utama gas propane (C3H8) dan butane (C4H10). Intinya LPG itu hasil dari proses penyulingan gak minyak bumi dengan titik didih sangat rendah. Biasanya gas LPG digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk memasak di dapur. LPG yang umum dipakai masyarakat adalah yang seberat 12 kg dan 3 kg. Nah, Bright Gas adalah varian kemasan baru produk LPG. Bright Gas hadir dengan kemasan 5,5 kg. Pilihan yang ditawarkan untuk Bright Gas yang ditawarkan jadi bertambah pilihannya, dari 220 gram, 5,5 kg, dan 12 kg. Yang membedakan dengan varian lain, Bright Gas lebih praktis dan mudah dibawa ke mana pun. Fitur tabungnya lebih kece. Apa sih keunggulannya?


Lebih Aman
Tabung Bright Gas 5,5 Kg berfitur Katup Ganda DSVS (Double Spindle Valve System) yang dua kali lebih aman mencegah kebocoran pada kepala tabung. Untuk menjamin kualitas dan ketepatan isi, Bright Gas 5,5 kg juga dilengkapi dengan segel hologram dengan fitur OCS (Optical Color Switch) yang telah memperoleh paten dan tidak dapat dipalsukan. Tabung Bright Gas 5,5 Kg juga terdapat sticker safety penggunaan tabun.

Lebih Nyaman
Dengan berat tabung hanya 12,6 Kg, tabung Bright Gas 5,5 Kg sangat ringan untuk dijinjing. Konsumen juga dapat memesan langsung Bright Gas 5,5 Kg dengan Layanan antar 500 000.

Lebih murah
Lebih Terjangkau dengan harga jual isi ulang yang ditawarkan sebesar Rp 57.500/tabung (belum termasuk ongkos kirim) untuk daerah Jawa & Bali, dan Rp 62.000/tabung (belum termasuk ongkos kirim)untuk daerah Kalimantan.

Jadi menurut saya, Pertamina telah berusaha sebaik mungkin menjaga kelestarian lingkungan dengan patuh pada undang-undang yang berlaku, melakukan uji kualitas produk, berkontribusi untuk berbagai kegiatan cinta lingkungan, dan improvisasi produk-produk yang tak hanya aman dan berkualitas bagi masyarakat tapi juga menjadi perusahaan besar yang melayani masyarakat dengan baik. Keluarga saya turun-temurun sih percaya dan menggunakan produk-produk Pertamina. Kalau kamu? (Uwan Urwan)

Referensi:


  • http://www.pertamina.com
  • http://www.kitapunya.net/2014/12/mengenal-nilai-oktan-octane-number.html
  • http://m.tempo.co/read/news/2015/06/25/092678224/ini-beda-premium-pertalite-pertamax-dan-pertamax-plus
  • http://www.aonestepaway.com/keunggulan-bbm-berkualitas-dari-pertamina/
  • http://www.pustekolah.org/data_content/attachment/NEW-PROSPEK_BIOETANOL_SEBAGAI_PENGGANTI_MINYAK_TANAH.pdf
  • Wyman, C. E. 2002. “Potential Synergies and Challenges in Refining Cellulosic Biomass to Fuels” Biotechnol Progress. 
  • Khairani, R. 2007. Tanaman jagung sebagai bahan bio-fuel. http://www.macklintmipunpad.net/Bio-fuel/Jagung/Pati.pdf.
  • Mursyidin, D. 2007. Ubi kayu dan bahan bakar terbarukan.
  • http://www.banjarmasin.net/pedoman%Bahan%bakar%terbarukan.
  • http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/34409/7/Cover.pdf
  • http://www.organisasi.org/1970/01/gas-elpiji-lpg-terbuat-dari-minyak-bumi-berbentuk-gas-yang-dicairkan.html

You Might Also Like

1 komentar

Sangat senang kalau kamu berkenan meninggalkan komentar di sini. Kamu jaga kesehatan ya. 💪

Instagram