HUJAN (part 2)


"Sebenernya yang bikin gue luluh sama Pak Rudi itu karena dia mau dengerin nasehat-nasehat gue meskipun remeh."

Aku mengambil napas dalam, berharap bisa membantunya. Temanku ini terlampau serius dihajar cinta yang tidak pada posisinya. Rara, sebut saja temanku itu. Dia bukan perempuan yang suka bersolek. Meski cantik, ia tak mau memakai taburan bedak atau pewarna lain untuk bibir maupun matanya.

Rara menyeruput jus tomat yang tinggal separuh gelas. Sesekali ia melihat jendela. Di luar hujan, sementara itu orang-orang lalu-lalang di dalam restoran. 

"Aku juga ngalamin yang kamu alami sebenarnya sih. Berkali-kali termasuk saat ini," kataku. Ia tiba-tiba menoleh.

"Serius lo? Sama siape? Ibu tiri lo?"

"Enggaklah. Gila apa? Dan kemarin tidak sengaja duduk sebelahan. Jantungku langsung deg-degan." Aku menarik napas, melirik jendela yang berembun. Hujan, hujan memang selalu menjadi momen pas untuk menggalau ria.

Jika diperhatikan dari luar restoran, tampak laki-laki dan perempuan menatap titik yang sama, jendela berembun. Mereka berdua pun meratapi hal sama. Dua manusia yang galau. Eh, aku lupa memberi nama tokoh 'aku'.

"Waktu dia bilang, malam minggu besok aku mau bertemu teman, dadaku langsung sesak. Aku cemburu, Rara,"

"Sama. Bahkan gue salaman dengan istri dan anaknya, Bon," seru Rara.

"Aku bisa ngebayangin gimana perasaanmu. Dan sekarang aku ingin lari."

Aku menghela napas, menahan sesak. Apalagi yang harus kulakukan jika bertemu dengannya? Tertawa lebar seolah-olah tidak ada apa-apa atau bersembunyi di kamar mandi sampai ia pergi?

"Tapi elo kudu hadepin. Jangan lari terus! Kayak gue dong. Gue ketawa-ketawa aja begitu ketemu istrinya, tapi di dalem sakit."

Hujan di luar kian deras, embun yang terbentuk pada kaca-kaca jendelanya makin padat, tapi aku masih bisa melihat kesibukan di luar. Pengendara motor berjas hujan, Go-Jek, Grab bike, dan pejalan kaki yang rela berbasah-basahan terhuyung-huyung agar tidak terkena rembesannya. Mana mungkin? Hujan cukup lebat dan membiarkan tubuh kering itu perkara mustahil.

"Kamu benar, karena sakitnya sama."

"Iya. Berpura-pura aja, karena gak selamanya yang palsu itu jelek."

Hahaha. Kami pun tertawa, tak lagi memikirkan hujan apalagi riuh lantak suasana hati.

"Sebenarnya elo suka siapa sih, Bondan?"

No comments: