Ketika malam beranjak dewasa


Tanganku menjadi beku
Ia seolah lupa tentang kenangan dalam ikatan nadinya
Sendu, gelisah, dan perabotan masak menjadi saksi keramaian hati
Malam telah tua
Ubannya menyolok mata
Giginya tinggal yang berlapis perak
Aku rindu, kangen, dan menginginkan sebuah tubuh oleng lagi
Seekor tupai menari-nari di balik jendela
Menertawakanku
Ia lalu melempar senja untuk mempermuda gelap
B, masih saja kelupaan itu tak terbiasa
Seperti berhenti di atas loyang dan tergoreng minyak wijen
Tahu kan seberapa mahal ekstraknya?
Malam tak berakhir,
Ia minum obat pelangsing, totok wajah, dan rajin berolahraga
Dan rindu kian hebat
Tapi hanya bisa memandang bintang yang akan datang tahun depan.
Hm... Be, bolehkah aku menyentuh kepalamu yang lembut itu?
Hm... mungkin dia akan mengabaikan
Musim rindu, 080815

No comments:

Instagram