Sejumput Kisah Bersama Bapak

March 30, 2015



Dari balik dinding kaca ruang tamu, kuperhatikan seorang laki-laki berusia seperdua abad membongkar isi perut sepeda motor. Wajahnya penuh keringat, begitu pun tangannya yang tak berupa. Penuh tanda-tanda hitam dari darah organ-organ benda bermesin itu. Laki-laki itu mengotak-atik, membersihkan bagian kotor, menjahit yang luka, memastikan saraf-sarafnya masih berfungsi, lalu menempatkan kembali perkakas ke dalam tempatnya semula. Kemudian ia mencoba menyalakan alat transportasi itu. Begitu nyala, ia memastikan makhluk berbahan bakar itu berada dalam kondisi fit. Barulah ia akan berkata, “Sudah.” Pemilik motor kemudian akan menyerahkan beberapa lembar rupiah kepada laki-laki itu.
Pria itu menghela napas dan berdiri, memperhatikan sejumlah pelanggan lain yang menunggu gerakan tangannya untuk membenarkan kerusakan pada motor-motor mereka. Masih ada tiga orang yang menunggu. Jam dinding menunjukkan pukul 11.00 WIB. Waktu sarapan telah lewat. Padahal biasanya ia bersantap bersama istri tercinta sekitar pukul 08.00—09.00 WIB. Ia tak lagi merasa lapar. Wajah-wajah yang menanti uluran tangannya telah menghilangkan hasrat untuk makan. Ia harus menjadi dokter yang bertanggung jawab kepada pasien-pasiennya.
Laki-laki itu bapakku. Orang yang menyumbangkan satu sel sperma untuk proses peleburannya dengan sel telur perempuan yang paling dicintainya. Takdir memang seringkali tidak masuk akal. Aku tak mengerti kenapa Tuhan menciptakan aku menjadi manusia paling beruntung yang selalu merasa buntung di dunia.
Akhirnya pria itu beralih ke pasien lain. Mungkin agak sekarat atau mungkin penyakitnya lebih ringan. Aku tak tahu. Sama sekali aku tak mengerti otomotif. Bila ada seseorang yang bertanya tentang jenis motor, merek kendaraan, bagian-bagian tubuh motor, aku hanya bisa menganga dan menggelengkan kepala. Dan biasanya berakhir dengan tanggapan, “Bagaimana sih. Bapakmu kan montir?” Aku hanya tersenyum dan seringkali hening untuk beberapa saat lamanya.
Tiba-tiba aku teringat saat ia berkata, “Kamu harus mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dibandingkan Bapak.” Air mataku menitik mengenangnya. Waktu itu Bapak bercerita tentang kehidupannya dulu. Karena keterbatasan biaya, ia harus putus sekolah saat sedang menempuh pendidikan Sekolah Menengah Pertama. Aku tak tahu bagaimana rasanya putus sekolah, tetapi aku pernah merasakan bagaimana berjuang mati-matian untuk melanjutkan belajar di sebuah universitas ternama. Aku tahu bagaimana perjuangan Bapak untuk membuat anaknya mendapatkan sesuatu yang lebih hebat dibandingkan dirinya. Minimal, doanya terkabul meskipun aku bukan golongan ber-IPK cumlaude.
Kemudian ia bekerja di bawah naungan orang keturunan tiongkok sebagai montir. Bertahun-tahun ia mengabdi sebagai anak buah yang dididik keras oleh tuannya. Aku pernah menemukan buku tua hasil fotokopi dengan ratusan lembar, kurasa lebih dari 200 halaman. Isinya tentang ilmu permotoran, mulai dari pengenalan mesin, perangkat, kerusakan-kerusakan, dan bagaimana cara memperbaikinya. Di dalamnya terdapat banyak gambar, diagram, dan ah… aku benar-benar tidak ingat lagi. Aku yakin kalau Bapak sudah hatam mempelajarinya.
Bertahun-tahun Bapak ditempa kemudian lepas dan mendirikan bengkel kecil. Waktu demi waktu berlalu, ia telah mendapatkan kepercayaan dari banyak pelanggan. Mendengar suara dan gerak-gerik motor pun, ia sudah bisa mendeteksi bagian mana yang mesti dibenahi. Biaya yang dibebankan pun ringan, sehingga pasien-pasien berdompet tipis bisa dengan lega menggunakan jasa Bapak.
Aku kini tak lagi dapat menatapnya dari balik kaca ruang tamu. Aku telah tinggal jauh darinya dan rindu sering kulupakan. Namun, aku sering memikirkannya. Tangan-tangannya yang gigih, kaki-kakinya yang retak-retak, rambutnya yang kian habis, dan dekapan hangatnya. Ah tahu tidak, seumur hidup aku baru tiga kali memeluk tubuhnya. Ah, pelukannya sangat menenangkan. Pelukan itu juga mendamaikan.
Aku tak pernah tahu apa yang dia pikirkan. Yang aku tahu, garis-garis wajahnya mengajarkanku tentang cinta. Cinta yang tak tampak, tetapi selalu hadir dalam doa-doa. Lalu aku sadar, kenapa Bapak tak pernah mengajarkanku bagaimana cara memegang obeng, bersentuhan dengan oli, dan terpaksa tertumbuk palu saat bekerja. Aku tahu…. Karena dia mencintaiku. (Uwan Urwan)

You Might Also Like

1 komentar

Sangat senang kalau kamu berkenan meninggalkan komentar di sini. Kamu jaga kesehatan ya. 💪

Instagram