Lunar, First Day Move On

June 10, 2014



Bagian 1

Sumber : belajarmarkets.blogspot.com
Aku ingin bercerita tentang cinta, anggap saja bukan kisahku. Pada pagi hari, saat embun tak pernah datang dan angin tak sempat menyapa kakiku bergerak dari satu angkutan ke angkutan lain, high heel merah yang kukenakan masih mengilap. Berulang kali kuusap bedak tipis begitu kurasakan pipiku berkeringat. Cermin kecil selalu menjadi teman bermain, penghibur, dan kekasih setia yang tak pernah berkeluh kesah. Bibir pun mesti memerah agar kecantikanku bertahan hingga malam menjelang.
     Walaupun kecantikan itu kumainkan, aku tak pernah punya cinta lagi semenjak mantan kekasihku tak berkabar. Saban hari hatiku bak remah mengingat kenangan-kenangan setiap berjalan ke tempat kami bercanda. Saat bercermin pun aku hanya melihat wajahnya. Cinta, rasanya aku telah mati rasa. Hilang sarafku ke dalam ubun-ubun.
     Aku telah lama merasa terluka dalam, remuk redam, benci yang rindu, dan cinta yang berego. Merintih berulang kali. Tetapi pagi ini aku mencoba menggulung rambut dengan sisir, mengukir alis, membayangi pipi, dan mengecat bibir. Menjadi perempuan yang baru tumbuh meski masih tersisa puing-puing bekas badai setahun silam.
     Tuk..  bunyi penyanggah kaki pertama menginjak aspal begitu kopaja berhenti tepat di depan tempat kerjaku. Tuk... tuk... tuk.... bunyinya kian berisik seiring langkah sekian banyak orang yang berebut trotoar.
Jakarta penuh sesak, Jakarta pusat negeri, Jakarta semrawut.... Namun, aku tak ingin beranjak dari tempat biadab ini meski berulangkali ayah dan ibu berniat memulangkan ke kampung. Aku tak beranjak. Di sini cukup indah masanya. Mengulang tangisan yang sama hanya karena seorang laki-laki tak spesial, tak tampan, dan tak berharta. Laki-laki yang tak pernah datang lagi mengetuk pintu rumah, yang tak lagi memangggilku sayang...
      Ah, perasaan perempuan memang rumit. Aku sendiri dibuat lelah memikirkan diri sendiri. Bukan saatnya lagi memikirkan asmara yang kuakhiri itu.
    Aroma wangi pengharum ruangan menyeruak begitu aku memasuki ruangan. Mesin pendingin telah melambai-lambai. Kuletakkan tas merah yang sedari tadi melekat di lengan. Membuka isinya dan mengambil cermin. Tampak di sana pantulan wajah lesu akibat sering meratap. Buru-buru kuusapkan bedak untuk menutupinya. Aku mencoba tersenyum simpul, ah wajah wanita itu memang cantik tapi sayang suka sekali berprasangka dan terjebak kisah lampau. Pantas, seberapa banyak lelaki yang berusaha dekat menjauh pada akhirnya.
     Dadaku naik turun, berdebar, 10 menit lagi rapat. Aku harus segera berjalan menuju ruang rapat. Di koridor, tampak seorang laki-laki malu-malu berjalan menuju ruang HRD. Sekilas, mataku tertuju pada bahunya, bahu yang gagah. Ia tersenyum dan aku membalas singkat, mengacuhkan. Aku kembali menyegerakan kaki melangkah lebih cepat karena pikiranku terpusat pada materi pertemuan. Aku akan memandu rapat.

*****

     Aku sama sekali tak tahu bila masa depan berkata lain. Pria yang baru saja berpapasan denganku akan menjadi bagian lebih dahsyat, membagi pikiranku menjadi tiga. Aku sama sekali tak mengerti maksud Tuhan.
Kisah ini belum berakhir dan belum dimulai. Aku tak mengerti bagaimana harus memulai. Berikan aku waktu sejenak untuk menangis. Aku masih ingin menangis....

You Might Also Like

0 komentar

Sangat senang kalau kamu berkenan meninggalkan komentar di sini. Kamu jaga kesehatan ya. 💪

Instagram