Ini Tentang, Ini Puisi



 Lagi-lagi saya seperti tersedot ke dalam dunia bahasa. Saya mengarahkan tangan untuk membuat kata-kata berbaris membentuk kalimat dan atau frasa. Jika orang-orang beranggapan puisi itu hanya seni yang bisa dinikmati orang-orang tertentu, justru itu asumsi yang kurang benar. Namun saya tidak peduli. Haha. Setiap orang bisa menikmati segala bentuk permainan kata.
Kurang lengkap rasanya bila saya hanya menulis. Bersama seorang kawan lama, saya membuat dua versi pembacaan dengan bantuan instrumen Fix You - Coldplay. Puisi ini tanpa judul, tanpa kaidah, dan tanpa beranda. Hanya kumpulan isi kepala. Silakan downlod di sini: versi Uwan Urwan vs versi Indrian RA Farro.

Ini tentang....
Perempuan yang mengambil gincu di sudut rumah makan
Dengan cermin sebagai berhala, ia mengaga
Memperbaiki bibir sumbing
menengadah, menambah lekukan alis
mempertebal bagian pipi hingga merona

Perempuanku, perempuanku
Engkau begitu derita menjadi singgasana permaisuri
Limbah kau izinkan masuk dalam kerongkonganmu
Takkah kau tahu sedang mengunyah permata, emas, dan batu pualam?
Kau bukan pedagang diri

Dayang-dayang kau lucuti hingga terjungkal
Masuk keluar ke samping ke belakang
Kau bersolek manja dengan pria di sampingmu
Ia menikmati ginju di belakang lehermu
Ia merogoh kocek dalam saku perutmu
Kau hanya terengah dan terpesona pada bintang di siang bolong

Ini tentang bagaimana perempuan-perempuan itu menjerit kepayahan
Saat mereka tak melihat tubuh mereka seramping kuas lukisan

Ah, sayangnya aku bukan gadis
Tak pernah tahu betapa sakitnya menggantungkan leher di dalam bolongan donat
Bunyi bahasa yang kuucapkan hanya maya
Kau takkan pernah tahu bagaimana rasanya laki-laki memandang pin yang tersemat di belakang hidungmu
Kau akan tahu kalau...
Tapi sayang, kau terlalu bodoh menjadi perempuan

3 comments:

sayydan said...

Cieeeh versi gue juga ada...hahaha :D

uwanurwan said...

iya.... :)

novia arie said...

Aiiihhh kce badaaaiii ;)

Instagram