PANCAROBA SANG PERUPA

May 05, 2014




Memasuki gedung Graha Cipta 2 di Taman Ismail Marzuki akhir Maret 2014 lalu saya disambut hamparan lukisan besar berukuran sekitar 3 m x 4 m. Lukisan yang berdiri di sisi kiri itu menggambarkan sebuah perahu yang memuat banyak orang dengan jenis berbeda. Entahlah, itu tidak bertema dan saya kesulitan menginterpretasikannya. Saya melihat emosi acak di dalamnya. Nuansa biru dan cokelat krem pun seolah sengaja dikombinasikan.
Selain itu terdapat kutipan “Ayo senyum dong” dan “Menyayangi masa lalu dan selalu bergerak untuk masa depan”. Meski sinergis dengan beberapa tokoh yang tersenyum, pertentangannya terletak pada ungkapan perasaan ikan berwarna biru dan makhluk cokelat yang tampak marah. Kombinasi warna biru pada air dan oranye—krem pun seolah memberi arti terpisah. 
 



Saya tak berlama-lama menatapnya. Saya tak sabar masuk ke dalam galeri. Di sana saya bukan hanya terkesima, perasaan campur aduk juga melingkupi kepala saya. Beragam gaya dan penampilan sangat terlihat. Pancaroba Pancaroba, begitulah selendang pameran seni rupa karya komunitas Garis Cakrawala asal Solo, Jawa Tengah. Kolaborasi sembilan pemuda memberi variasi unik. Itulah karya-kaya terbaik mereka yang sengaja dipajang di ruanggaleri itu. Ukuran pun berbeda-beda, seperti 150 cm x 400 cm, 175 cm x 120 cm, 120 cm x 185 cm, 200 cm x 300 cm, 415 cm x 150 cm, dan beberapa ukuran lain. Dari perbedaan gaya dan teknik melukis terdapat satu kesamaan, yaitu rapi dan tegas. Pengunaan warna-warna yang berani, gradasi yang rapi, dan detail-detail kecil yang menjadi pertimbangan yang mewah menurut saya.




Di sela-sela gambar-gambar hasil kuas, juga terpatri instalasi berupa kotak kayu. Kotak kayu diagungkan setinggi kira-kira semeter. Enam kotak itu juga dilukis dengan cat kayu. Tema yang diusung pun berbeda. Sebuah kotak bernamakan “Identity” menampilkan dirinya sebagai potongan-potongan organ berdarah. Potongan organ itu berupa boneka dimaka kepalanya dipenuhi tancapan paku, sementara tatapannya kosong. Kotak lain pun membawa pasir pantai dengan rantai dan sebuah botol. Kotak-kotak itu hasil renungan Surakarta Young Artist Project (SAYAP) asal Surakarta. Kombinasi yang unik antara Garis Cakrawala dan SAYAP membawa pencerahan tentang sebuah renungan. Saya yakin, renungan itu dibuat sedemikian rupa hingga membuat mata saya tak henti berdecak kagum. (Uwan Urwan)

































You Might Also Like

3 komentar

  1. aku tidak tahu harus berkomentar apa. karena ak bukan seniwan apalagi seniwati.
    hahahaha

    ReplyDelete
  2. Semangat penk buat blognya. Jangan sampai putus ditengah hutan, hohohohoho

    ReplyDelete
  3. kbanyakan karyanya brnuansa politis yoh, hahaha,,,kbanyakan berwaran merah jadi krasa nuansa agresif e...heheheh.... -yue-

    ReplyDelete

Sangat senang kalau kamu berkenan meninggalkan komentar di sini. Kamu jaga kesehatan ya. 💪

Instagram