Malam Naga-Naga Kawin

January 22, 2014



     Waktu menunjukkan pukul 21.00 di bawah langit Dusun Rowotengu, Desa Sidomulyo, Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur. Rintik-rintik kecil membasahi tanah pada akhir periode 2013. Di sela-sela perbincangan bersama Asroful Uswatun, pemilik kebun buah naga, suara katak dan jangkrik bersenandung memecah bisikan angin. Aliran udara lembut itu sayup-sayup mematahkan setengah kesadaran saya. Hingga beberapa menit berselang dua sosok laki-laki paruh baya mengayuh sepeda mendekat. Mereka menembus malam bergerimis lengkap dengan jaket dan sepatu bot di tubuh. Saya menduga mereka hendak mencari hewan malam di sawah atau ladang.
     Setelah berjarak sekitar 10 m barulah saya tahu jika kedua pria itu karyawan kebun Asroful. Lalu mereka melabuhkan sepeda di bawah naungan. Rasa ingin tahu saya tergugah. “Sebentar lagi mereka akan menyerbukkan buah naga,” kata Asroful. Saya kembali menyelidik mengapa harus dilakukan pada malam hari? Bukankah pada pagi hari akan lebih efisien? “Bunga buah naga mekar maksimal pada pukul 22.00—02.00,” ujarnya. Jika penyerbukan terjadi saat bunga terbuka palig lebar, buah pun bobotnya akan maksimal. 



     Tak ingin ketinggalan, rasa kantuk lenyap, dan saya ikut andil menelusuk kebun Hylocereus polyrhizus berbekal kamera dan sandal. “Di kebun sering ditemukan ular,” celetuk salah seorang pekerja Asroful. Saya pun beralih mengenakan bot walau tampak kurang nyaman di kaki. Tepat pukul 10.00 WIB hujan telah berakhir, dedaunan basah, dan udara dingin. Saya mengikuti langkah kedua penghulu yang membawa kuas panjang dan sebuah kotak makan tanpa penutup memasuki kebun.
     Saya kemudian takjub melihat setiap tiang terdapat minimal satu bunga mekar berdiameter sekitar 30 cm. “Benar-benar maksimal,” ungkap saya dalam hati. Mahkotanya berwarna putih sementara benang sari kuning merumpun di tengah. Tangkai putik menjulur dua kali lipat dibandingkan panjang benang sari. Di ujungnya jumbai kuning mirip ekor cumi-cumi terbuka. Itu ukuran terbesar dan momen tercantik yang pernah saya temukan. Senyum saya ikut terkembang melihat pemandangan langka itu.



     Di situlah penyerbukan dengan bantuan manusia terjadi. Pekerja lantas menjatuhkan serbuk sari ke dalam kotak. Ia kemudian menyapu serbuk-serbuk sari dan mengusapkannya ke kepala putih dengan kuas. Hal yang sama juga dilakukan pekerja yang lain. Mereka sigap mengoleskan sel-sel kelamin jantan pada satu putik ke putik lain hingga saya kelimpungan ke arah mana saya harus berjalan. Apalagi lampu yang saya kenakan di kepala membuat kepala tidak nyaman. Terlebih saya harus mengintip bilik kecil di dalam perut kamera. Tapi saya tidak gentar untuk mengabadikan malam paling romantis untuk tanaman-tanaman itu. Wangi serbuk sari menggambarkan itu.
     Saking bersemangat, langkah saya terseok-seok karena tanah becek dan beberapa kali tersangkut duri membuat badan saya sedikit lecet. Harap mahfum, saya hanya mengenakan kemeja tipis. Itu pun beberapa kali terjerembab ke jebakan lumpur. Sementara kedua orang itu benar-benar serius membantu para naga menunaikan ibadah tanpa banyak berbicara. Tentu saja saya masih terkesima.
     Kesibukan saya mengabadikan mekarnya mahkota hingga sebesar itu membuat saya kelabakan karena tidak mengerti ke arah mana harus berjalan. Setiap jalan yang saya lalui hanya berdiri tiang-tiang tempat buah naga menempelkan tubuh. Kami bertiga hanya ditemani senter di masing-masing kepala. Benar, cahaya senter juga yang membantu saya menemukan jalan jika kehilangan jejak sang makcomblang.
     Pekerjaan mengawinkan pasangan naga jantan dan betina berakhir sejam kemudian. Langit telah lelah menjatuhkan rintik-rintik. Sementara bunyi serangga dan katak masih bersahutan. Tanaman buah naga tampak puas dengan kehadiran kami tinggal menunggu 30 hari dengan bobot maksimal (bisa mencapai 800—1.000 g per buah). (Uwan Urwan)

You Might Also Like

4 komentar

Sangat senang kalau kamu berkenan meninggalkan komentar di sini. Kamu jaga kesehatan ya. 💪

Instagram