SAJAK UNTUK MALAM

November 06, 2013



     Seperti tulisan saya sebelumnya, sendu dengan perjalanan punggung, ini juga mengulas mengenai syair. Saya memang hobi merangkaikan kata-kata indah. Itu berlangsung sejak saya masih di bangku kelas 2 SMP hingga lulus kuliah. Tapi, beberapa tahun belakangan saya kesulitan menuliskan serangkaian kalimat atau frasa. Kepala serasa mati. Mungkin karena usia sudah memasuki “matang gonad” hingga pikiran saya sulit fokus melankolis—puitis lagi. Hehe...
     Tulisan ini mengingatkan saya pada kejadian kehilangan netbook pembelian orangtua beberapa bulan silam. Lalu saya sadar betapa pentingnya menyimpan data tidak hanya di
satu penyimpan data. Rasa sesal yang tak kunjung selesai itu mengantarkan saya untuk membuka surat keluar dan surat masuk di email untuk mengunduh kembali beberapa file yang menurut saya penting. Sebagian besar telah raib bersama netbook itu. Netbook murahan sih, tapi orangtua membelikannya dengan susah payah agar saya bisa lulus kuliah dengan cepat. Dan itu hadiah luar biasa dari orangtua dan dari Tuhan.
     Kejadian itu mengharuskan saya untuk berhati-hati dan mulai aktif mengabadikan karya-karya saya di tempat lain. Blog inilah jalan keluarnya. Ini salah satu puisi karya saya. Saya telah mengabadikannya dalam bentuk file mp3. Puisi ini memang sengaja saya bacakan dengan diiringi instrumen damai bersamamu - Chrisye (akhirnya saya ingat juga, instrumen ini juga saya gunakan pada puisi Ingatkah aku berjalan di belakang punggungmu  Puisi ini karya lama saya.
     Isinya hanya beberapa penggal dan menurut saya indah ketika saya baca. Saya tidak menyangka bisa membuat sajak seindah itu. Walaupun kumpulan puisi saya telah beratus-ratus dan belum pernah dipublikasikan, saya bangga dengan karya ini (Hehe... maaf narsis, suaranya juga jelek). Di dalamnya saya mengungkapkan betapa sendunya malam. Saya mengekspresikan rasa sedih dalam bentuk gelap. Entah, apa yang saya rasakan waktu itu. Mungkin saja pengaruh patah hati. Saat ini pun jika sedang galau, saya akan semakin gundah gulana jika mendengarkan puisi ini. 
     Jangan salah, bahkan puisi ini cocok sebagai pengantar tidur. Bila sudah insomnia dan ingin cepat terlelap, pasti saya memutar file mp3 ini. Intinya suara saya akan membuat mengantuk. Karya saya bisa multimanfaat, bukan? Hehe.. Penasaran? Silahkan unduh di sini. Saya juga melampirkan liriknya. (Uwan Urwan)


Puisi Malam
by Uwan Urwan
 
Malam kelam dengan penat berlalu perlahan-lahan
Menepis urat nadi yang berdesir
Angin pun ikut berhembus
Menyapa kabut sore yang sejak tadi memanggilku ke dunianya
Mengajakku terbang bersamanya

Diam lama sekali beranjak
Pesona lembah kedukaan melemah
Inginku berat sepaham dengan gelap
Diam memuai pergi saja siang
Datang sepi
Diam seakan pelik
Remah gelisah seakan berbunga di atas kabut
Dan sedikit aku baru berpikir
Bahwa betapa berkecamuknya gelap
 

You Might Also Like

0 komentar

Sangat senang kalau kamu berkenan meninggalkan komentar di sini. Kamu jaga kesehatan ya. 💪

Instagram