Alun-alun Kota Situbondo Tahun 2013

August 30, 2013



Ini mungkin konyol jika saya selalu mengekspos kampung kelahiran saya. Iya, saya memang kembali lagi menguak satu titik di kota Situbondo. Bukan masalah besar sih, hanya saja saya pikir bodoh kalau banyak orang yang lahir di kota Situbondo memilih untuk menutup mata. Mungkin orang-orang juga tertawa jika membaca tulisan ini dan akan berkata, “Halah, lebay.” Atau “Apa sih yang bisa dibanggakan di Situbondo?” Buktinya pemuda-pemudanya malas untuk memgembangkan potensi di sana (termasuk saya dan teman-teman saya sendiri, hehe).
Memang sih, sampai saat ini saya merasa (ini belum disurvey lo, jadi jangan terhasut) tidak ada sesuatu yang ‘wah’ di sana. Lapangan pekerjaan begitu sempit untuk memberikan peluang hobi saya bisa berkembang. Dan banyak orang (lagi-lagi anggapan subjektif penulis) yang cukup bertahan dengan menjadi pegawai sukwan (kepanjangan dari sukarelawan) dengan gaji seadanya hingga bertahun-tahun. Banyak sih alasannya dan tidak bisa jauh dari orang tua yang menjadi alasan utama (ini hasil perbincangan dengan beberapa rekan sejawat saya).
Dan dua paragraf di atas sebenarnya ‘nggak banget’ buat dijadikan pendahuluan di tulisan ini. Tapi, karena sudah capek-capek ngetik sambil menunggu kantuk, ya boleh dong (mumpung sedang mood). Tetap seperti tulisan terdahulu (baca : Senja di Situbondo) saya memang sengaja berkeliaran untuk hunting foto. Ini juga berupa kumpulan foto terdahulu dan beberapa memang terbaru.  
Nah, foto-foto dibawah itu saya ambil di alun-alun kota Situbondo. Kalau Anda berkunjung ke Situbondo, sempatkanlah mampir di alun-alun. Letaknya sih di pusat kota dan hanya 10-15 menit dari terminal kota Situbondo. Cukup naik angkot saja bisa. Sebenarnya sama sih dengan alun-alun di mana pun. Setiap malam minggu pasti orang-orang membludak. Dan kalau malam, ada warung-warung tenda yang telah ditertibkan. Satu petak khusus untuk pedagang-pedagang. Banyak yang dijual sih mulai dari makanan hingga baju bekas. Hihi.. jangan salah, saya juga pernah sekali membeli baju bekas di sana dan sampai saat ini masih sering dipakai. 
Di  bagian lain tentu saja lapangan. Cukup luas sih dan biasanya digunakan untuk upacara kemerdekaan atau acara lain misalnya konser artis, malam takbiran, main bola dan lain-lain. Eh, beberapa tahun belakangan sudah ada lapangan basketnya loh. Saya tidak tahu tepatnya dan tepat di depan pendopo ada teras-teras beratap yang bisa wi-fi-an. Khusus bagi yang punya laptop atau tablet yang mau gratisan. Saya dulu juga sering berlama-lama di sana lo. Apalagi peminat gratisan cukup banyak. Hehe... Sekalian bisa flirting-flirting dengan anak sekolahan.

Tepat di pusat alun-alun ada air mancur. Demi penghematan, air mengucur ke atas hanya di malam minggu. Di tengah kolam terpasang perahu dengan cat emas. Cantik sih. Tapi saya sering tidak betah di sana karena selalu sendirian. Maklum saya memang lebih suka hidup soliter. Beberapa meter dari air mancur itu ada relief. Sepertinya cerita mengenai perjuangan untuk kemerdekaan Republik Indonesia sih. Saya kurang bisa memahami jalan ceritanya. Yang menarik buat saya ya... heran saja, relief cantik begini orang sering tidak peduli (menurut saya sih). Tak jauh dari relief itu, ada tugu tempat bertengger burung garuda. Burung garuda itu mengepakkan sayap seolah ingin terbang. Tapi keburu dikutuk jadi batu. Hehe...


Tulisan ini sengaja mengangkat alun-alun kota Situbondo walaupun pembukaannya menurut saya ‘nggak banget’ tapi tetap akan saya lanjutkan cerita tentang Situbondo di lain waktu. Menyambung di paragraf awal, saya hanya ingin mengatakan bahwa Situbondo bukanlah kota kecil yang hanya menjadi tempat persinggahan sementara bagi orang-orang yang hendak ke Bali. Kami punya banyak hal untuk Anda ketahui.(Uwan Urwan)

You Might Also Like

2 komentar

Sangat senang kalau kamu berkenan meninggalkan komentar di sini. Kamu jaga kesehatan ya. 💪

Instagram